Home PUISI Untuk Sekar, Bintangku yang Hilang

Untuk Sekar, Bintangku yang Hilang

65
0

Oleh: Usfadia
Wartawan LPM Qalamun

Di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, hiduplah seorang gadis bernama Sekar. Kulitnya sawo matang, matanya teduh, dan senyumnya menawan. Ia bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga De Vries, pemilik perkebunan teh yang kaya raya.

Tuan De Vries memiliki seorang putra bernama Jan. Pemuda itu tampan, cerdas, dan memiliki jiwa seni yang tinggi. Ia sering melukis pemandangan desa dan memainkan piano di beranda rumah.

Suatu sore, saat Sekar sedang menyiram bunga kenanga di taman, Jan menghampirinya.

“Bunga yang indah,” kata Jan sambil tersenyum. “Seperti dirimu.”

Sekar tersipu malu. Ia tak berani menatap mata Jan.

“Terima kasih, Tuan,” jawabnya lirih.

Sejak saat itu, Jan sering mengajak Sekar berbicara. Ia bercerita tentang Eropa, seni, dan mimpi-mimpinya. Sekar mendengarkan dengan penuh minat, merasa seolah terbang ke dunia yang belum pernah ia kenal.

Jan pun belajar tentang budaya Jawa dari Sekar. Ia tertarik dengan gamelan, wayang, dan tari-tarian tradisional. Sekar dengan senang hati mengajarinya.

Hari demi hari, benih-benih cinta tumbuh di hati mereka. Mereka saling jatuh cinta, tanpa mempedulikan perbedaan ras dan status sosial.

Namun, cinta mereka terlarang. Di mata masyarakat kolonial, hubungan antara wanita pribumi dan pria Belanda dianggap aib yang tak termaafkan.

Suatu malam, saat Jan dan Sekar sedang berduaan di taman, Tuan De Vries memergoki mereka. Ia marah besar dan menampar Jan.

“Kau telah mempermalukan keluarga kita!” bentak Tuan De Vries. “Jangan pernah mendekati wanita pribumi itu lagi!”

Jan mencoba membela Sekar, tetapi Tuan De Vries tidak mau mendengar. Ia mengurung Jan di kamarnya dan mengancam akan mengirimnya kembali ke Belanda jika tidak menuruti perintahnya.

Sekar merasa hancur. Ia tahu cintanya dengan Jan tidak mungkin bersatu. Dengan hati berat, ia memutuskan pergi dari rumah keluarga De Vries agar Jan tidak semakin menderita.

Namun sebelum Sekar pergi, Jan berhasil menyelinap keluar dari kamarnya dan menemuinya.

“Sekar, jangan pergi,” kata Jan dengan suara bergetar. “Aku mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Sekar menangis. “Aku juga mencintaimu, Jan. Tapi cinta kita tidak mungkin. Kita hidup di dunia yang berbeda.”

“Kita bisa melarikan diri,” kata Jan. “Kita bisa pergi ke tempat jauh, di mana tak ada yang bisa memisahkan kita.”

Sekar menggeleng. “Itu tidak mungkin, Jan. Kita tidak bisa lari dari kenyataan. Lebih baik kita berpisah sekarang, daripada terus menderita.”

Jan memeluk Sekar erat-erat dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.

“Aku akan selalu mencintaimu, Sekar,” bisiknya. “Sampai akhir hayatku.”

Sekar melepaskan pelukan Jan dan berlari menjauh, menghilang di balik kegelapan malam. Jan berdiri terpaku. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia tahu, ia telah kehilangan cinta sejatinya.

Beberapa bulan kemudian, Sekar mendengar kabar bahwa Jan dijodohkan dengan seorang wanita Belanda. Hatinya semakin hancur.

Suatu hari, Sekar jatuh sakit. Ia menderita demam tinggi dan batuk berdarah. Terbaring lemah di gubuknya, ia hanya memikirkan Jan. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia memanggil nama Jan, meninggal dengan senyum di bibirnya, membayangkan wajah kekasihnya.

Jan mendengar kabar kematian Sekar dan sangat terpukul. Ia merasa bersalah karena tidak bisa melindunginya. Ia tidak pernah menikah, menghabiskan sisa hidupnya dengan melukis wajah Sekar dan memainkan piano di beranda rumah, mengenang cinta sejatinya yang direnggut oleh perbedaan dan prasangka.

Bunga kenanga di taman keluarga De Vries terus bermekaran, menjadi saksi bisu cinta tragis antara wanita pribumi dan pria Belanda di zaman penjajahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here