Oleh : Reski Amalia Ramadhani
Pengurus Redaksional
Di antara riuh tawa dan dering notifikasi grup, Rani duduk di pojokan kantin kampus, menatap layar ponselnya yang terus menyala. Chat datang silih berganti — undangan nongkrong, permintaan tugas, hingga sekadar tag lucu di media sosial. Ia punya banyak teman, terlalu banyak malah. Tapi saat hatinya penuh sesak oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan, tak satu pun dari nama-nama itu terasa pantas untuk dihubungi.
Setiap hari ia tertawa di tengah keramaian, menjawab lelucon, berfoto, dan membagikan momen kebersamaan. Namun ketika pulang, yang menyambutnya hanyalah suara kipas angin dan notifikasi yang tiba-tiba sepi. Tidak ada yang bertanya “kamu kenapa?” tanpa alasan tersembunyi di baliknya.
Rani sering iri melihat orang lain yang punya “sahabat” — seseorang yang tahu isi kepalanya tanpa perlu dijelaskan panjang lebar. Ia mencoba mendekat ke beberapa orang, tapi selalu saja berhenti di batas “teman.” Entah karena takut ditolak, atau karena dunia kini lebih sibuk dengan topeng kebahagiaan digital.
Suatu sore, ia berjalan sendirian setelah kuliah. Gerimis turun, dan payungnya ketinggalan. Sementara teman-temannya sudah berlarian menuju parkiran, ia hanya menatap langit yang menitik perlahan di atas rambutnya. Dan di situlah Rani tersadar — mungkin selama ini ia terlalu sibuk ingin diterima banyak orang, sampai lupa menerima dirinya sendiri.
Sejak hari itu, Rani mulai mengurangi perannya sebagai “teman seru di setiap tongkrongan.” Ia belajar duduk tenang sendirian di kafe kecil, membaca buku, menulis hal-hal yang dulu tak sempat ia pikirkan.
Lucunya, di saat ia berhenti mencari sahabat, seseorang datang — bukan dengan basa-basi, tapi dengan keheningan yang nyaman. Bukan yang selalu ada di setiap pesta, tapi yang tetap diam menemani di tengah sepi.
Dan Rani akhirnya mengerti:
Kadang, punya banyak teman membuatmu dikenal banyak orang.
Tapi punya satu sahabat membuatmu benar-benar dipahami.







