Oleh: Dwi Putri Amalia
Wartawan LPM Qalamun
Kedai Kopi Peninggalan tampak berbeda sore itu. Udara biasa yang dipenuhi aroma kopi tubruk dan kesunyian sore ini pecah oleh riuh rendah tawa dan cerita. Di sudut favorit, yang dengan bantal-bantal lungsi dan meja kayu ber-coretan, bukan hanya ada tujuh cangkir kopi. Tapi, ada juga tujuh koper kecil yang mengangkangi lantai, tanda bahwa ini adalah pertemuan yang istimewa.
Mereka bertujuh akhirnya berkumpul lagi.
“Jadi, gimana Medan-nya, Dir? Benar katanya orang Medan kalau ngomong itu seperti marah-marah?” tanya Citra, sambil tertawa. Rambut pendeknya yang sekarang diwarnai biru muda semakin membuatnya mencolok. Citra memilih merantau ke Jakarta, bekerja sebagai graphic designer di sebuah startup ternama.
Dira, yang duduk di seberangnya, melotot dramatis. “Dasar orang Jakarta, sok tahu! Nggak marah-marah, itu semangat!” ujarnya, dengan logat Medan yang sudah melekat dan membuat semua orang tertawa. Dira sedang menjalani program magister di Universitas Sumatera Utara







