Oleh: Aprilia Ayu Azhani
Jurusan: Hukum Keluarga
Wartawan LPM Qalamun
Malam turun perlahan,
dan Palu memilih bersinar.
Cahaya-cahaya kecil dari kejauhan
menyulam gelap menjadi harapan.
Teluk terdiam,
menyimpan kilau kota di dadanya.
Air bergetar pelan,
seolah tengah berzikir kepada cahaya.
Di antara bukit dan laut,
Palu berdiri tanpa suara
namun keindahannya berbicara
tentang keteguhan yang tak diumbar kata.
Jalan-jalan sunyi merekam langkah,
lelah yang pulang bersama doa.
Manusia menyimpan mimpi dengan rapi,
agar esok tetap memiliki arah.
Angin membawa ingatan lama
tentang luka yang pernah jatuh ke tanah.
Namun Palu belajar bangkit perlahan,
menjahit retak dengan sabar dan pasrah.
Dan ketika fajar menyentuh teluk,
cahaya menjelma janji yang utuh:
bahwa setiap gelap akan mereda,
dan Palu selalu tahu cara pulang kepada Tuhan.







