Home CERPEN Inward: Within Myself

Inward: Within Myself

9
0

Oleh: Ridah
Prodi: Akuntansi Syariah
Wartawan LPM Qalamun

Aku belajar sejak lama bahwa tersenyum adalah cara paling aman untuk bertahan. Dengan tersenyum, orang-orang tidak akan terlalu banyak bertanya. Dengan tersenyum pula, aku tidak perlu menjelaskan mengapa dada sering terasa penuh tanpa sebab yang jelas.

Di luar, aku dikenal sebagai orang yang “kuat”. Orang yang selalu bisa diajak bercanda. Orang yang selalu siap mendengarkan. Aku tahu cara membuat orang lain merasa dipahami. Aku tahu kapan harus diam, kapan harus mengangguk, dan kapan harus berkata, “Tidak apa-apa, aku ada.”

Masalahnya, aku terlalu sering menjadi “ada” untuk semua orang, sampai lupa memastikan apakah aku juga ada untuk diri sendiri.

Aku seperti spons, menyerap perasaan orang lain tanpa sadar. Ketika seseorang datang dengan mata sembap, dadaku ikut mengencang. Saat ada yang bercerita tentang kegagalannya, aku ikut merasa gagal. Aku menanggung beban yang bahkan bukan milikku, tetapi entah mengapa terasa seperti kewajiban.

Aku tidak ingin orang lain merasa sendirian. Aku tahu rasanya. Aku tahu dinginnya kesepian yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Maka aku memilih menjadi tempat pulang bagi banyak orang, meskipun aku sendiri tidak tahu ke mana harus pulang.

Ada hari-hari ketika diriku begitu lelah, tetapi tetap membalas pesan dengan cepat. Tetap menelepon kembali. Tetap berkata, “Aku dengerin, cerita aja.” Bukan karena aku tidak lelah, melainkan karena aku takut jika menolak, aku akan kehilangan tempat di hidup mereka.

Aku takut jika berhenti memberi, aku akan berhenti berarti.

Di depan cermin kamar, aku sering menatap diri sendiri lebih lama dari yang seharusnya. Wajahku terlihat baik-baik saja. Senyumku masih utuh. Namun, mataku tahu betapa sering aku menelan perasaan sendiri, betapa sering aku memilih diam agar tidak merepotkan siapa pun.

Aku jarang marah. Bukan karena tidak pernah terluka, melainkan karena aku lebih memilih menyalahkan diri sendiri. Ketika seseorang pergi, aku bertanya, “Apa yang kurang dari diriku?” Saat hubungan meretak, aku mengulik ulang semua percakapan, mencari di mana letak salahku mengucap kata, salah bersikap, salah menjadi diri sendiri.

Kepalaku seperti ruang sidang yang tidak pernah tutup, dan aku selalu menjadi terdakwa.

Malam adalah waktu paling jujur. Setelah semua notifikasi berhenti, setelah semua orang merasa cukup didengarkan, aku duduk sendiri di kamar dengan lampu temaram. Sunyi tidak pernah benar-benar sunyi. Ia dipenuhi suara-suara kecil di kepalaku.

Kamu terlalu sensitif.
Kamu berlebihan.
Seharusnya kamu bisa lebih kuat.

Aku mencoba tidur, tetapi pikiranku terus bekerja, menata ulang semua kejadian hari itu, memastikan tidak ada seorang pun yang aku buat kecewa. Lucunya, aku sibuk menjaga perasaan semua orang, tetapi jarang sekali ada yang benar-benar bertanya bagaimana perasaanku.

Dan mungkin, itu juga salahku.
Aku terlalu pandai menyembunyikan lelah.
Aku terlalu rapi menutup retak.

Suatu hari, aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku sesak, aku selalu berusaha menjadi rumah bagi orang lain, tetapi membiarkan rumahku sendiri runtuh perlahan. Aku menambal dinding orang lain, sementara atapku bocor. Aku memayungi orang lain dari hujan, sementara aku berdiri basah kuyup, berpura-pura tidak kedinginan.

Aku tidak pernah belajar berkata, “Cukup.”
Aku tidak pernah benar-benar belajar berkata, “Sekarang giliranku.”

Hingga pada satu titik, tubuhku mulai berbicara ketika mulutku tidak berani. Aku mengalami gangguan kesehatan mental, aku belum sanggup menyebutkan namanya di sini. Aku lebih sering merasa lelah, lebih mudah kosong, dan lebih sering ingin menghilang sejenak. Bukan untuk mati, melainkan untuk bernapas tanpa harus menjadi siapa pun.

Pada malam itu, aku duduk di lantai kamar, bersandar ke dinding. Tidak ada yang aku hubungi. Tidak ada yang aku dengarkan. Untuk pertama kalinya, aku membiarkan diriku sendiri yang bersuara.

Aku menangis, pelan, tidak dramatis, namun jujur.

Aku mengakui pada diri sendiri:
Aku lelah selalu menjadi kuat.
Aku lelah selalu menjadi pengertian.
Aku lelah selalu menjadi pihak yang mengalah.

Dan di antara isak yang tidak rapi itu, muncul satu kesadaran pelan, tetapi tegas: Aku juga manusia, yang memiliki batas. Aku juga berhak untuk tidak selalu tersedia.

Aku tidak harus kehilangan diriku sendiri hanya agar orang lain merasa nyaman.

Sejak malam itu, aku mulai belajar hal-hal yang terasa asing, menunda balasan pesan, menolak dengan sopan, mengatakan bahwa aku lelah tanpa merasa bersalah. Tidak semua orang menyukai perubahan itu. Ada yang menjauh dn adapula yang berubah dingin.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak langsung menyalahkan diri sendiri.

Mungkin memang bukan tugasku untuk menyenangkan semua orang.

Kini, aku masih tersenyum. Aku masih peduli. Namun, aku belajar satu hal yang dulu tidak pernah aku lakukan, menjaga diriku sendiri.

Karena ternyata, keberanian terbesar bukan saat aku kuat untuk semua orang,
melainkan saat aku cukup jujur untuk berkata:

“Saya juga butuh diselamatkan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here