Home CERPEN Ruang dalam Raina

Ruang dalam Raina

156
0

Oleh: Rahmaniar
Wartawan LPM Qalamun

Namanya Raina. Gadis yang baru saja memasuki usia dua puluh tahun itu dikenal sebagai pribadi yang penuh warna—kadang ceria, kadang diam tanpa alasan yang terlihat. Tapi di balik semua itu, pikirannya tak pernah benar-benar sunyi.

Sejak remaja, Raina akrab dengan overthinking: tentang masa depan, tentang siapa dirinya kelak, dan tentang hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Ia terlalu sering menyelami hal-hal yang tidak bisa dikendalikan. Namun satu hal yang selalu konsisten dalam dirinya adalah kecintaannya terhadap kenangan.

Raina senang menyimpan memori. Ia percaya bahwa setiap perjalanan punya cerita yang layak diingat. Salah satu masa yang paling ia kenang adalah masa menengah pertamanya. Saat itu, ia begitu ambisius, begitu penuh semangat. Dunia terasa luas, dan segala kemungkinan seolah terbuka lebar di hadapannya.

Di masa itu pula, ia bertemu seseorang yang diam-diam memberi warna berbeda dalam hidupnya. Bukan sekadar teman, dan mungkin juga bukan cinta dalam bentuk yang biasanya orang definisikan, tapi cukup untuk membuat masa itu terasa lebih hidup, lebih layak dikenang.

Namun waktu terus berjalan. Raina tumbuh, dan dunia pelan-pelan menjadi tempat yang lebih kompleks. Ia belajar bahwa tidak semua orang akan tinggal, tidak semua rencana berjalan mulus, dan tidak semua pertanyaan harus segera punya jawaban.

Hari-hari yang dijalani kini masih sering dipenuhi tekanan. Pikiran sering terganggu kekhawatiran tentang apa yang akan datang. Namun sebuah pertemuan kecil dengan buku Filosofi Teras perlahan mengubah cara pandangnya.

Buku itu tidak datang dengan janji manis, tapi menawarkan pemahaman sederhana yang dalam: ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, dan ada yang tidak. Kedamaian bukan berasal dari mengendalikan segalanya, tapi dari belajar menahan diri terhadap hal-hal yang tidak bisa dikontrol.

Sejak saat itu, Raina mulai bisa menepi. Ia tak lagi merasa perlu memikul segalanya. Ia belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa diatur, dan tidak semua ketakutan harus diberi tempat. Ia belajar tenang di tengah ketidakpastian, dan mulai mengenal dirinya dengan lebih jujur.

Tentu saja, masalah masih datang. Terkadang sekitarnya menjengkelkan, kadang juga menyenangkan. Tapi kini Raina punya cara pandang baru: semua akan berlalu, dan semua akan selesai pada waktunya.

Ia tidak sedang mencari kehidupan yang bebas dari beban. Ia hanya ingin menjalani hari-harinya dengan lebih sadar, dengan hati yang tidak terus-menerus terjebak pada “nanti,” tapi hadir di “sekarang.”

Dan Raina, kini, sudah siap melangkah lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here