Home CERPEN The Timeless Love

The Timeless Love

239
0

Oleh: Siti Hajar Musyawir
Wartawan LPM Qalamun

Aku masih ingat hari itu dengan jelas, ketika Lutfi pertama kali mengirimkan pesan langsung (DM) kepadaku di Instagram.

Aku tidak tahu apa yang membuatnya memilihku di antara jutaan orang di dunia maya, tapi aku senang bahwa dia melakukannya.

Kami mulai berbicara dan menyadari bahwa kami berdua berada di kampus yang sama, meskipun di kampus yang berbeda. Aku di kampus 2, sedangkan Lutfi di kampus 1. Kami berdua sama-sama mahasiswa dengan mimpi dan harapan yang sama.

Hari pertama kami bertemu secara langsung adalah saat rapat di kampus. Aku tidak tahu apa yang membuat Lutfi begitu percaya diri, tapi aku senang bahwa dia bisa membuatku merasa nyaman. Kami berdua berbicara tentang banyak hal, dari kuliah hingga hal-hal kesukaan kami.

Seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Kami mulai sering bertemu, mulai dari berjalan-jalan ataupun hanya sekadar ingin bertemu melepas rindu.

Kami berdua menyadari bahwa kami memiliki hubungan yang sangat kuat. Kami bisa berbicara tentang apa saja tanpa takut dihakimi. Kami berdua merasa bahwa kami telah menemukan sesuatu yang spesial.

Namun, suatu hari, kesalahpahaman membuat kami berdua hampir terpisah. Aku merasa sedih dan kecewa, dan aku hampir kecelakaan saat berkendara. Tapi, Lutfi langsung berangkat dari tempatnya yang sangat jauh untuk menemuiku dan menyelesaikan konflik tersebut.

Aku sudah melarangnya karena itu sangat jauh, tapi dia bersikeras untuk bertemu. Kami berdua bertemu di suatu tempat, dan Lutfi langsung memelukku.

“Maafkan aku,” katanya. “Ayo kita perbaiki sama-sama, bolehkan?”

Aku merasa bahagia dan lega, lalu kami berdua memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami. Kami berdua memahami bahwa cinta kami adalah cinta yang abadi, dan kami tidak akan pernah menyerah.

Setelah itu, kami memutuskan untuk menikmati makanan yang lezat dan kebersamaan kami. Aku merasa jantungku berdegup kencang, tapi aku tidak bisa menyangkal bahwa aku merasa bahagia.

Saat itu, aku menyadari bahwa inilah cinta yang sesungguhnya. Dan kemudian, kami menemukan sesuatu yang membuatku dan dia terkejut. Kami berdua lahir di rumah sakit yang sama.

Aku tidak bisa percaya bahwa kebetulan seperti itu bisa terjadi. Lutfi tersenyum dan mengatakan bahwa dia juga tidak bisa percaya. Tapi, kami berdua tahu bahwa kami telah menemukan sesuatu yang spesial.

Kami berdua tahu bahwa cinta kami adalah cinta yang abadi. Dan sekarang, kami berdua masih bersama, menikmati kebersamaan kami dan menghadapi masa depan dengan penuh harapan.

Mau seberat apa pun masalahnya, jika cinta keduanya sama-sama besar, maka akan ada seribu jalan untuk bertahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here