Home CERPEN Obrolan di Warung Kopi

Obrolan di Warung Kopi

63
0

Oleh: Novan Afriza
Wartawan LPM Qalamun

Malam itu, warung kopi di pojok jalan sudah ramai oleh suara tawa. Seperti biasa, sekelompok anak laki-laki SMA duduk melingkar di meja kayu usang — meja yang seolah menjadi saksi bisu segala cerita: mulai dari kisah cinta yang gagal, rencana masa depan, hingga perdebatan sengit tentang klub sepak bola kesayangan.

Ekal, si paling banyak bicara, sedang heboh menceritakan pengalamannya ditolak gebetan.
“Bayangkan, saya udah latihan ngomong berhari-hari. Eh, pas bilang suka, dia malah ketawa!” katanya sambil menggaruk kepala.

Tawa pun pecah. Suara mereka membaur dengan denting gelas dan dengung motor yang melintas di luar warung.

Di sampingnya, Evan hanya menggeleng pelan. “Makanya, jangan kebanyakan gaya. Cewek itu suka yang natural,” ujarnya sok bijak.
Komentarnya langsung disambut tawa yang lebih keras — semua tahu, Evan sendiri belum pernah pacaran.

Obrolan pun bergeser cepat, dari urusan asmara ke topik futsal. Andi, pemain andalan sekolah, tampak bersemangat membahas strategi melawan tim tetangga.
“Kita main pressing tinggi aja. Jangan kasih mereka ruang sedikit pun,” katanya penuh percaya diri, seperti pelatih profesional yang sedang memberi instruksi.

Sementara itu, Riza hanya diam sambil mengaduk es tehnya. Ia memang bukan tipe banyak bicara. Tapi sekali buka mulut, semua langsung mendengarkan.
“Yang penting kita main enjoy. Kalau kebanyakan mikir strategi, nanti malah kaku sendiri,” ujarnya santai.

Dan seperti biasa, kalimat sederhana dari Riza membuat semua mengangguk setuju.

Waktu berjalan tanpa terasa. Rokok habis sebatang demi sebatang, kopi mulai dingin, tapi obrolan tak kunjung berhenti. Dari meja itu, tawa, canda, dan perdebatan terus mengalir. Kadang mereka bertengkar kecil, tapi selalu berakhir dengan pukulan pelan di bahu atau tawa bersama.

Warung kopi itu, sesederhana apa pun, sudah jadi rumah kedua bagi mereka. Tempat melepas topeng, tempat menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi. Tak ada yang peduli siapa yang pintar, siapa yang sering bolos, atau siapa yang selalu dapat nilai jelek. Di sana, semua sama: teman.

Malam makin larut. Satu per satu mereka berpamitan. Sebelum pergi, Ekal menutup dengan kalimat yang sudah jadi tradisi,
“Ingat, besok nongkrong di sini lagi. Hidup itu berat kalau dijalani sendiri.”

Kalimat itu terdengar sepele, tapi di baliknya ada kehangatan yang tak terlihat.

Di bawah lampu jalan yang temaram, mereka berjalan pulang dengan langkah ringan. Besok, atau lusa, mereka akan kembali lagi. Dan warung kopi itu akan kembali ramai — menjadi panggung kecil tempat mereka belajar arti persahabatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here