Oleh: Zainal Takdir Basir
Wartawan LPM Qalamun
Di lorong sunyi, buku-buku berbisik
tentang ambisi yang ditanam,
dan mimpi yang kadang dipatahkan.
Kampus…
bukan sekadar ruang belajar,
tapi arena tarung tanpa pluit—
tempat kepala harus tegak,
seakan otak ingin berteriak,
meski hati sering runtuh diam-diam.
Di sini,
di sana,
di situ—
siapa lengah, dilupakan.
Siapa kuat, menorehkan nama.
Dari kerasnya dinding-dinding ilmu,
lahir jiwa yang ditempa baja.
Siapa yang jatuh, siapa yang bangkit—
tak ada yang peduli.
Luka dianggap aib,
senyum palsu menutup pedih.
Kita adalah individu,
terasing dalam keramaian tak terperi.
Menjadi kuat adalah satu-satunya janji,
meski jiwa terkikis sampai ke inti.
Namun, di balik api semangat yang terus berkobar,
mereka tetap melangkah—
meski jatuh, meski tersandung—
hanya demi angka semata,
harga mahal
untuk sebuah gelar nyata.







