Home PUISI Beranjak Dewasa

Beranjak Dewasa

24
0

Oleh: Yuni
Jurusan: Sistem Informasi
Wartawan LPM Qalamun

Aku menapaki lorong waktu yang panjang,
tanpa peta, tanpa penunjuk arah.
Di antara sunyi yang menggantung di langit-langit hari,
kucari namaku sendiri—
yang samar di antara gema langkahku.

Masa kecil tinggal cahaya redup di ufuk ingatan,
perlahan tenggelam ditelan cakrawala usia.
Sementara dunia membentang luas,
memanggilku dengan wajah-wajah asing
dan janji-janji yang tak seluruhnya kupahami.

Keberanian kupakai seperti pakaian pinjaman,
kesabaran kusembunyikan di balik senyum yang retak.
Luka-luka datang tanpa salam,
mengetuk pintu dada di malam paling lengang.
Namun dari reruntuhan rapuh itu,
tumbuh kekuatan yang tak pernah kukenal sebelumnya.

Aku berjalan dengan mata yang pernah kosong,
hingga suara kecil di relung hati
menjelma gema yang tak bisa lagi kuabaikan.
Ia berdebat dengan ambisi yang kupaksakan,
mengoyak bayang-bayang masa lalu
yang bersembunyi di sudut gelap pikiranku.

Dewasa bukanlah undangan yang kupinta,
ia datang seperti musim
yang tak pernah menunggu persetujuan.
Aku hanya bisa mengikutinya,
meski kerap bertanya:
mengapa harus sejauh ini?

Sesekali kutoleh jejak yang tertinggal.
Di sana kulihat diriku yang lain—
lebih polos, lebih ringan,
namun tak lagi bisa kembali.

Aku bertanya pada waktu yang terus mengalir,
pada detik-detik yang tak pernah singgah:
apa arti kehilangan dan penantian ini?
Jawaban tak selalu bersuara,
tetapi langkahku tetap berjalan.

Sebab mungkin,
kedewasaan bukan tentang tiba,
melainkan tentang berani terus melangkah
meski tak tahu apa yang menunggu di depan sana.

Dan dalam perjalanan yang tak pasti ini,
aku belajar satu hal:
kebahagiaan bukan tujuan yang jauh di ujung jalan,
melainkan kesadaran yang tumbuh pelan-pelan—
di dalam jiwa yang akhirnya memilih untuk bebas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here