Nama: Nur Fahmi Ridhana
Jurusan: Pendidikan Agama Islam
Wartawan LPM Qalamun
Langkah kecil menyusuri hutan,
tangis dalam dekapan menjadi kawan.
Sukar baginya diam di tengah gempuran,
menyaksikan tanah Papua hilang seakan tak bertuan.
Tangis tertahan di kelopak mata
yang tak lagi muda.
Pelipisnya berkerut sunyi,
seolah menahan luka.
Hatinya tergores pilu,
matanya nanar memandang nestapa,
menyaksikan Papua dikeruk habis
oleh tangan-tangan pendusta.
Ia berlari menahan deru ekskavator
yang merenggut tanah leluhurnya.
Tanpa gentar, ia berlutut
tepat di hadapan gempuran baja.
Dengan suara parau yang menyala,
amarah tersulut di dalam dada,
teriaknya lantang menyentak—
tanda perlawanan Mama Papua:
“Kami ingin hidup
di tanah kami sendiri,
bukan menjadi asing
di rumah kami sendiri.”







