Oleh: Nasywa Husnul Khotimah
Wartawan Magang
Menurut saya, kemampuan AI yang berkembang pesat belakangan ini bukanlah sesuatu yang otomatis membawa dampak buruk atau baik bagi anak muda. Segalanya kembali kepada cara kita menggunakannya. Banyak orang melihat AI sebagai sesuatu yang tiba-tiba muncul begitu saja, padahal teknologi ini sudah berakar sejak puluhan tahun lalu.
Kalau kita telusuri, konsep kecerdasan buatan sudah muncul sejak tahun 1950-an ketika para ilmuwan mencoba membuat mesin yang mampu “berpikir”. Namun saat itu teknologi masih sangat terbatas. AI baru mulai terasa mendekati kehidupan manusia pada awal 2000-an setelah adanya machine learning. Dan perkembangan paling cepat terjadi antara tahun 2018 hingga 2023, ketika deep learning dan model bahasa besar hadir dan digunakan secara luas oleh masyarakat.
Perkembangan cepat inilah yang memunculkan banyak kekhawatiran. Banyak orang takut AI akan merusak generasi muda, membuat mereka malas atau terlalu bergantung pada jawaban instan. Tapi menurut saya, ketakutan itu kurang tepat sasaran. Yang seharusnya lebih diperhatikan adalah bagaimana anak muda diajarkan memahami teknologi ini, bukan hanya menakut-nakutinya.
Memang, dampak buruk tetap mungkin terjadi. Anak muda bisa jadi kurang sabar, karena mereka terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan cepat. Proses berpikir panjang yang seharusnya melatih kreativitas dan logika bisa saja terlewat jika mereka terlalu nyaman mengandalkan AI untuk semua hal. Bahkan, rasa percaya diri mereka bisa turun karena merasa kemampuan manusia kalah dari mesin.
Namun di sisi lain, peluang positifnya sebenarnya jauh lebih besar. Dengan penggunaan yang tepat, AI bisa menjadi alat belajar yang luar biasa. Anak muda bisa mengembangkan ide, membuat karya, dan belajar banyak hal dalam waktu lebih singkat. AI bisa menjadi mentor virtual yang selalu hadir, membantu ketika dibutuhkan, dan membuka pintu pengetahuan yang dulu sulit dijangkau.
Karena itu, menurut saya AI bukan musuh. Yang membuatnya berbahaya bukan teknologinya, tetapi ketidaktahuan manusia dalam menggunakannya. Yang dibutuhkan anak muda bukan larangan memakai AI, tetapi literasi digital supaya mereka tahu kapan harus mengandalkan teknologi dan kapan harus mengandalkan kemampuan sendiri.
Pada akhirnya, perkembangan AI yang semakin cepat bisa menjadi berkah atau bencana. Semua bergantung pada bagaimana kita menggunakannya dan bagaimana generasi muda diajarkan memanfaatkannya. Teknologi hanyalah alat manusialah yang menentukan arah penggunaannya.







