Home CERPEN Tempat Hati Pulang

Tempat Hati Pulang

106
0

Oleh : Nasywa Husnul Khotimah
Wartawan Magang

Di sebuah pedesaan yang tenang, hiduplah seorang gadis bernama Malika. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya, dua kakak, dan dua adik di sebuah rumah sederhana dengan halaman luas. Di halaman itu tumbuh pohon buah jambu air, rambutan, dan beberapa tanaman lain yang meneduhkan pandangan.

Setiap pagi, Malika melihat burung-burung kecil hinggap di dahan jambu air, seolah menyambut hari yang baru. Pohon-pohon itu sudah seperti keluarga dimana mereka hadir, memberi, dan tumbuh bersamanya. Ketika musim rambutan tiba, buah-buah merah bergerombol, membuat halaman terlihat semarak. Anak-anak tetangga sering ikut memetik, dan tawa mereka memenuhi udara.

Sebagai anak tengah, Malika sering membantu tanpa perlu diminta. Ia menyiapkan keperluan adik-adiknya, menemani Ibu memasak, dan menjadi tempat bercerita bagi kakak-kakaknya. Ia tumbuh menjadi gadis lembut, tidak banyak menuntut tetapi penuh perhatian.

Malam hari menjadi saat favoritnya. Di ruang tengah, keluarga berkumpul, saling bercerita tentang hari mereka. Tidak ada hiburan mewah hanya percakapan hangat yang selalu membuat Malika merasa utuh.

Bagi Malika, kampungnya memiliki pesona yang tak dapat digantikan. Satu hal yang paling ia sukai adalah aroma aspal setelah hujan, yang membawa rasa damai dan nostalgia aneh setiap kali ia menghirupnya. Bau itu bercampur dengan kesejukan pohon-pohon kampung, membuatnya merasa seperti berada dalam pelukan rumah. Jalan kecil yang basah terlihat mengilap, sementara suara tetesan air dari daun membentuk irama yang menenangkan.

Teman-teman seusianya sering sibuk membahas cinta tentang pesan singkat yang membahagiakan atau perpisahan yang menyakitkan. Namun bagi Malika, cinta bukan sesuatu yang ia cari.

Suatu sore, seorang temannya bertanya,
“Malika, kamu nggak pengin punya pacar?”

Malika tersenyum pelan.

“Bukan nggak pengin… cuma rasanya hatiku sudah penuh.”

Ia tak merasa perlu terburu-buru.
Saat mencium aroma masakan Ibu,
saat melihat Ayah terlelap karena bekerja,
saat kakak-kakaknya pulang membawa cerita,
saat adik-adiknya memeluknya tanpa alasan.
Hatinya, terisi oleh semua itu.

Sore hari, ia sering berjalan santai di sekitar rumah. Ia menyusuri jalan kampung yang sederhana, melewati pagar pagar rendah dan angin yang selalu terasa akrab. Ketika hujan baru saja berhenti, tanah dan aspal basah mengirimkan wangi khas yang menenangkan, seolah mengajak Malika untuk mengingat bahwa hidup tak perlu rumit.

Ia tahu suatu saat keadaan mungkin berubah kakaknya merantau, adiknya tumbuh, ia sendiri mungkin pergi jauh. Tapi untuk saat ini, ia ingin menikmati waktu yang ia punya bersama mereka, menikmati aroma aspal basah kampungnya, dan semua yang membuat tempat itu disebut rumah.

Bagi Malika, cinta terbesar adalah cinta yang selalu menantinya di rumah.
Cinta yang tak meminta syarat, cinta yang membuatnya merasa cukup.

Dan ketika angin sore menyapa dedaunan rambutan, Malika tersenyum.
Di halaman luas itu, di antara pohon jambu air dan rambutan yang bergoyang pelan, ia tahu di situlah hatinya selalu pulang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here