Home CERPEN Air Mata dan Janji di Pesantren

Air Mata dan Janji di Pesantren

56
0

Oleh: Hidayat Nur Wahid
Wartawan Magang

Namaku zidan, hari ini aku akan di antar oleh ibuku ke salah satu pesantren. Hatiku sangat ragu bercampur gugup, mengingat ini kali pertama aku akan meninggalkan rumah dalam waktu yang lumayan lama, dan jaraknya pun cukup jauh. Tanpa aku sadari, dari tadi aku di perhatikan oleh ibu.

“Tenang saja nak kamu pasti bisa, ” Kata ibu yang membuatku sedikit tenang dan aku balas dengan sedikit anggukan.

Tak lama kemudian, mobil yang telah di siapkan ibu untuk mengantarku pun tiba. Selama perjalanan aku hanya melamun tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Kenapa nak kamu kurang sehat? ” Kata ibu sedikit khawatir.

“Tidak bu, saya hanya ragu kalau bisa bertahan di sana sampai lulus” Jawabku. Ibu hanya diam mendengar jawabanku barusan.

Sampailah kami di tujuan, ibu melakukan beberapa persyaratan sedangkan aku hanya menunggu di luar. Tak lama, ibu datang dan menyuruhku masuk ke dalam.

“Ibu, kapan ibu pulang?” Tanyaku.

“Setelah semua keperluan yang kamu butuhkan beres, ibu pulang” Jawab ibu.

“Sekarang kamu mandi, sholat, dan gabung sama teman barumu” Lanjut ibu, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Setelah melakukan apa yang ibu katakan, selesai sholat aku langsung keluar masjid mencari ibu. Sudah aku cari semampuku namun hasilnya nihil.

“Ahh, setidaknya berpamitan dulu” Gumamku kesal.

Tapi tiba-tiba terdengar suara memanggilku dari arah belakang.

“Zidan!!” Ternyata itu ibu yang memanggil.

Aku yang mendengar itu, seketika berbalik dan berlari menuju sumber suara, suasana hatiku yang awalnya kesal seketika berubah senang.

“Tadi Zidan kira ibu sudah pulang” Kataku.

“Belum nak, ibu tunggu kamu” Jawab ibu.

Sementara ibu berbicara dan memberikan sedikit nasehat kepadaku, terdengar suara seseorang memanggil ibu, ternyata itu adalah orang yang akan mengantar ibu pulang.

Aku antar ibu sejauh beberapa meter dari gerbang pesantren. Saat ibu akan menaiki mobil, tiba-tiba ibu memelukku sangat erat di barengi air mata yang mungkin sedari tadi beliau tahan.

“Nak kamu di sini baik-baik, jaga sholat, rajin belajar, jangan nakal, dengar apa kata guru” Kata ibu sambil menangis.

Aku terdiam sejenak.

“Iya bu, ibu tenang saja, ibu tidak usah khawatir” Kataku sambil menahan air mataku agar tidak keluar.

Ibu melepas pelukannya dan naik ke mobil, dari jendela mobil ibu melambaikan tangan dengan air mata yang belum juga berhenti. Mengingat itu adalah hari pertama di mana aku jauh dari dirinya.

Setelah mobil itu hilang dari pandanganku, setetes air mataku jatuh.

“Iya ibu, Zidan janji balas air mata ibu dengan kelulusan Zidan di pesantren impian ibu ini” Kataku dalam hati sambil mengelap setetes air mataku.

(Singkat cerita)

Aku pun lulus dari pesantren itu, tiga tahun aku jalani dengan sabar, demi janjiku pada ibu kala itu. Ibu datang untuk menghadiri acara kelulusanku sekaligus menjemputku.

“Ibu air mata itu sudah ku balas” Gumamku dalam hati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here