Home CERPEN It’s Only Robot

It’s Only Robot

58
0

Oleh: Nur Syam Solehah
Wartawan LPM Qalamun

“Anggap saja ini hadiah dariku”
Kalimat itu selalu terngiang di kepala Surya setiap kali ia menatap sebuah robot yang diberikan oleh seorang teman kala itu, disampingnya terletak tumpukan berkas di atas mejanya—berkas proyek yang nilainya miliaran rupiah. Di ruangan mewah berpendingin udara itu, tanda tangannya berarti segalanya: bisa menjadi kunci pembuka atau pengunci bagi siapa pun yang datang.
Ia menatap jari-jarinya sendiri. Getar halus terasa. Kadang kadang ingatan masa kecil itu datang kembali.

Solo 2007
Bel sekolah dasar berdentang nyaring. Anak-anak berlarian ke luar, beberapa menuju warung, beberapa ke lapangan. Surya, anak petani yang selalu mendapat nilai terbaik di kelas, memilih duduk di bawah pohon mangga di belakang sekolah. Ia sedang membaca buku IPA ketika suara gaduh terdengar tak jauh darinya.

“Jangan pura-pura bego, kau pikir kami mau main sama anak petani kumal kayak kau?”
Itu suara Rino, anak Pak Kades, yang sedang mendorong seorang anak kecil bertubuh kurus hingga terjatuh ke tanah.

Surya berdiri, tapi langkahnya terhenti ketika Rino menoleh ke arahnya.
“Surya!” panggil Rino. “Kau kan dekat sama Bu Guru, bilang aja nanti kalau dia nanya, si Jali jatuh sendiri, ya?”

Surya diam. Matanya bergantian memandang Rino dan Jali yang menatapnya dengan wajah kotor dan sedih.
“Ini…” Rino membuka tasnya, mengeluarkan sebuah robot kecil berwarna perak. “Mainan dari luar kota. Katanya langka. Ambil aja, anggap saja hadiah dariku.”

Surya tahu itu terasa tidak benar. Tapi entah kenapa, tangan kecilnya terulur juga.
Mungkin karena penasaran, mungkin karena rasa ingin dianggap.

Dan sejak hari itu, robot itu berdiri di rak kamarnya, bersinar di bawah cahaya sore, seperti penjaga rahasia kecil yang tak pernah ia akui.

5 Tahun Kemudian
” Surya ini tugas Ratna kamu bantu?! ”
Tanya pak guru dengan curiga
“Yah, cuma bantu tandatangan absen temen aja kok, Pak, kebetulan Ratnanya lagi sakit jadi waktu itu dia titipin ke saya” ucap Surya pada guru Biologi.
Ini bukan pertama kalinya bagi Surya, ia sudah terbiasa dan sudah mempersiapkan jawaban jika ada yang mencurigainya.
Ia melakukannya dengan mudah. Karena dalam pikirannya, ia sudah belajar sejak kecil bahwa kadang, sedikit kebohongan bisa menyelamatkan seseorang.
Lalu kebiasaan itu tumbuh.

Memberi contekan?, tentu bukan hal biasa lagi bagi Surya toh tidak mengapa selagi temannya membayar jajan sebagai “imbalan”.
Sampai semuanya terasa bukan lagi hal buruk, hanya “kebiasaan kecil yang wajar dan menguntungkan”.

7 tahun kemudian
Surya kini dikenal sebagai pegawai cerdas di kantor pemerintahan. Penuh ide, cepat naik jabatan, banyak dipuji. Namun di balik itu, ia mulai terbiasa menerima “beberapa Amplop dan Bingkisan terima kasih.”
Pertama hanya bingkisan lebaran, lalu voucher, hingga amplop tebal.

Ia tak lagi merasa bersalah.
Sama seperti dulu—ketika ia menerima robot kecil itu, dan tetap diam seolah tidak terjadi apa apa.


Surya memasukkan kembali robot itu ke laci bawah meja. Ia selalu membawanya ke mana pun, tanpa tahu kenapa.
Mungkin karena nostalgia, atau mungkin karena rasa bersalah yang tak pernah selesai.

Namun hari itu, berita datang—penyidik datang ke kantornya membawa surat perintah penangkapan.
Surya dituduh melakukan tindak korupsi.

Saat diborgol, ia menunduk.
Di pikirannya, terputar lagi wajah Jali kecil yang dulu menangis di belakang sekolah.

“Aku tidak pernah menyangka,” gumamnya pelan, “robot yang kuterima dari anak Pak Kades… akan membawaku sejauh ini.”
Sesuatu yang awalnya asing dan terasa aneh, menjadi wajar dan terasa baik baik saja meskipun ia tidak benar dan sayangnya itu telah menenggelamkan Surya
—Oleh: Nur Syam Solehah
Wartawan LPM Qalamun
It’s Only Robot
Cerpen

“Anggap saja ini hadiah dariku”
Kalimat itu selalu terngiang di kepala Surya setiap kali ia menatap sebuah robot yang diberikan oleh seorang teman kala itu, disampingnya terletak tumpukan berkas di atas mejanya—berkas proyek yang nilainya miliaran rupiah. Di ruangan mewah berpendingin udara itu, tanda tangannya berarti segalanya: bisa menjadi kunci pembuka atau pengunci bagi siapa pun yang datang.
Ia menatap jari-jarinya sendiri. Getar halus terasa. Kadang kadang ingatan masa kecil itu datang kembali.

Solo 2007
Bel sekolah dasar berdentang nyaring. Anak-anak berlarian ke luar, beberapa menuju warung, beberapa ke lapangan. Surya, anak petani yang selalu mendapat nilai terbaik di kelas, memilih duduk di bawah pohon mangga di belakang sekolah. Ia sedang membaca buku IPA ketika suara gaduh terdengar tak jauh darinya.

“Jangan pura-pura bego, kau pikir kami mau main sama anak petani kumal kayak kau?”
Itu suara Rino, anak Pak Kades, yang sedang mendorong seorang anak kecil bertubuh kurus hingga terjatuh ke tanah.

Surya berdiri, tapi langkahnya terhenti ketika Rino menoleh ke arahnya.
“Surya!” panggil Rino. “Kau kan dekat sama Bu Guru, bilang aja nanti kalau dia nanya, si Jali jatuh sendiri, ya?”

Surya diam. Matanya bergantian memandang Rino dan Jali yang menatapnya dengan wajah kotor dan sedih.
“Ini…” Rino membuka tasnya, mengeluarkan sebuah robot kecil berwarna perak. “Mainan dari luar kota. Katanya langka. Ambil aja, anggap saja hadiah dariku.”

Surya tahu itu terasa tidak benar. Tapi entah kenapa, tangan kecilnya terulur juga.
Mungkin karena penasaran, mungkin karena rasa ingin dianggap.

Dan sejak hari itu, robot itu berdiri di rak kamarnya, bersinar di bawah cahaya sore, seperti penjaga rahasia kecil yang tak pernah ia akui.

5 Tahun Kemudian
” Surya ini tugas Ratna kamu bantu?! ”
Tanya pak guru dengan curiga
“Yah, cuma bantu tandatangan absen temen aja kok, Pak, kebetulan Ratnanya lagi sakit jadi waktu itu dia titipin ke saya” ucap Surya pada guru Biologi.
Ini bukan pertama kalinya bagi Surya, ia sudah terbiasa dan sudah mempersiapkan jawaban jika ada yang mencurigainya.
Ia melakukannya dengan mudah. Karena dalam pikirannya, ia sudah belajar sejak kecil bahwa kadang, sedikit kebohongan bisa menyelamatkan seseorang.
Lalu kebiasaan itu tumbuh.

Memberi contekan?, tentu bukan hal biasa lagi bagi Surya toh tidak mengapa selagi temannya membayar jajan sebagai “imbalan”.
Sampai semuanya terasa bukan lagi hal buruk, hanya “kebiasaan kecil yang wajar dan menguntungkan”.

7 tahun kemudian
Surya kini dikenal sebagai pegawai cerdas di kantor pemerintahan. Penuh ide, cepat naik jabatan, banyak dipuji. Namun di balik itu, ia mulai terbiasa menerima “beberapa Amplop dan Bingkisan terima kasih.”
Pertama hanya bingkisan lebaran, lalu voucher, hingga amplop tebal.

Ia tak lagi merasa bersalah.
Sama seperti dulu—ketika ia menerima robot kecil itu, dan tetap diam seolah tidak terjadi apa apa.


Surya memasukkan kembali robot itu ke laci bawah meja. Ia selalu membawanya ke mana pun, tanpa tahu kenapa.
Mungkin karena nostalgia, atau mungkin karena rasa bersalah yang tak pernah selesai.

Namun hari itu, berita datang—penyidik datang ke kantornya membawa surat perintah penangkapan.
Surya dituduh melakukan tindak korupsi.

Saat diborgol, ia menunduk.
Di pikirannya, terputar lagi wajah Jali kecil yang dulu menangis di belakang sekolah.

“Aku tidak pernah menyangka,” gumamnya pelan, “robot yang kuterima dari anak Pak Kades… akan membawaku sejauh ini.”
Sesuatu yang awalnya asing dan terasa aneh, menjadi wajar dan terasa baik baik saja meskipun ia tidak benar dan sayangnya itu telah menenggelamkan Surya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here