Oleh: Nugrahna
Prodi: Pendidikan Islam Anak Usia Dini
Wartawan LPM Qalamun
Setiap pagi, Bu Nhuna membuka pintu kelas kecil itu dengan senyum yang sama. Ruangan tersebut tidak luas, hanya dipenuhi meja mungil, kursi warna-warni, serta dinding yang ditempeli gambar matahari, awan, dan huruf-huruf besar yang digambar dengan crayon.
Namun, bagi Bu Nhuna, kelas itu adalah dunia yang penuh warna, tempat benih masa depan ditanam dengan cinta.
Anak-anak PAUD datang satu per satu. Ada yang berlari sambil tertawa, ada yang menggenggam erat tangan ibunya, dan ada pula yang menangis pelan karena belum siap berpisah. Bu Nhuna menyambut mereka semua dengan kesabaran yang sama.
“Selamat pagi, Rayyan,” sapanya kepada seorang anak laki-laki yang selalu datang paling awal.
“Pagi, Bu Guru,” jawab Rayyan sambil tersenyum malu-malu.
Di sudut lain, Kaila berdiri sambil memeluk tas kecilnya. Matanya berkaca-kaca. Ia belum mau masuk kelas.
“Bu Nhuna…” panggil ibunya dengan ragu.
Bu Nhuna berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Kaila. “Kaila boleh masuk pelan-pelan. Ibu tunggu di sini, ya,” katanya lembut.
Kaila tidak langsung berhenti menangis, tetapi Bu Nhuna tidak memaksa. Ia menggenggam tangan kecil itu, membiarkan air mata jatuh sebentar. Baginya, mendidik anak usia dini bukan tentang kecepatan, melainkan tentang rasa aman.
Hari-hari di kelas kecil itu dipenuhi hal-hal sederhana: menyanyi, menggambar, belajar mengenal warna, dan mendengarkan cerita. Namun, di balik kesederhanaan itu, Bu Nhuna selalu menyelipkan satu hal penting, yaitu cinta.
Ketika Rehan menumpahkan cat air dan mulai panik, Bu Nhuna tidak memarahinya. Ia mengambil lap dan berkata, “Tidak apa-apa. Kita belajar dari kesalahan.”
Ketika Amira kesulitan menghafal huruf, Bu Nhuna duduk di sampingnya lebih lama, mengulang pelajaran dengan suara pelan dan senyum yang tidak pernah pudar.
Bu Nhuna percaya bahwa anak-anak belajar paling baik ketika mereka merasa dicintai.
Suatu hari, hujan turun dengan deras. Anak-anak tidak bisa bermain di luar. Sebagai gantinya, Bu Nhuna mengajak mereka duduk melingkar.
“Hari ini kita membuat pelangi,” katanya sambil mengeluarkan kertas warna-warni.
“Pelangi ada berapa warna, Bu?” tanya Dafi.
“Tujuh,” jawab Bu Nhuna. “Seperti kalian. Berbeda-beda, tetapi indah jika bersama.”
Anak-anak menempelkan kertas warna satu per satu. Ada yang terbalik, ada yang keluar garis, tetapi Bu Nhuna membiarkannya. Ia tidak mencari hasil yang sempurna. Ia mencari kebahagiaan.
Sore itu, Bu Nhuna duduk sendirian di kelas setelah anak-anak pulang. Ia menatap pelangi kertas yang terpajang di dinding. Matanya berkaca-kaca.
Ia teringat alasan mengapa memilih menjadi guru PAUD. Bukan karena gaji, bukan pula karena pujian, melainkan karena ia tahu bahwa jika cinta ditanam sejak kecil, dunia akan menjadi tempat yang lebih lembut.
Keesokan harinya, Kaila masuk kelas tanpa menangis. Ia langsung memeluk Bu Nhuna.
“Ibu bilang, Bu Guru sayang Kaila,” katanya polos.
Pelukan kecil itu membuat Bu Nhuna yakin bahwa cintanya sampai.
Hari demi hari berlalu. Anak-anak tumbuh sedikit demi sedikit. Mereka belajar berbagi, meminta maaf, dan berani mencoba. Bu Nhuna tahu, suatu hari mereka akan meninggalkan kelas kecil itu. Namun, nilai-nilai yang ia tanamkan akan ikut melangkah bersama mereka.
Kelas itu mungkin kecil, tetapi di sanalah pelangi dilahirkan—dari kesabaran, ketulusan, dan cinta yang diajarkan tanpa suara keras.
Bu Nhuna tersenyum. Ia tidak sedang membesarkan anak-anak untuk hari ini saja. Ia sedang menyiapkan generasi terbaik untuk masa depan.
Dan di kelas kecil itu, cinta selalu menjadi pelajaran pertama, pelajaran tentang kehidupan yang dimulai dari tangan-tangan kecil.







