Home CERPEN Cinta yang Hilang, Cinta yang Ditemukan

Cinta yang Hilang, Cinta yang Ditemukan

316
0

Oleh: Ariska Aurelya Putri
Wartawan LPM Qalamun

Aku masih ingat hari pertama bertemu dengannya, akhir tahun 2018. Saat itu, aku sedang berjalan-jalan di sekitar kompleks rumahku ketika melihatnya bermain dengan teman-temannya. Dia adalah wanita yang cantik dan baik, dengan senyum manis serta mata yang tajam. Aku langsung terpikat oleh kecantikannya, tetapi aku tidak berani mengungkapkan perasaanku.

Kami akhirnya menjadi teman baik setelah aku memberanikan diri menghampirinya dan memperkenalkan diri. Kami sering menghabiskan waktu bersama, berbicara tentang kehidupan sehari-hari, dan berbagi cerita. Aku merasa sangat bahagia berada di dekatnya, tetapi tetap saja aku tidak berani mengungkapkan perasaanku. Aku takut persahabatan kami akan berubah jika dia tidak merasakan hal yang sama.

Seiring waktu berjalan, perasaanku semakin dalam. Aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta padanya, tetapi aku memilih untuk menunggu. Saat itu, dia masih menjalin hubungan dengan temanku. Aku tidak ingin mengganggu hubungan mereka, jadi aku hanya bisa menahan perasaan ini dalam diam.

Namun, setelah dia putus dengan temanku, kami justru kehilangan kontak selama hampir dua tahun. Rasa sedih dan kehilangan menyelimutiku. Aku mencoba berbagai cara untuk menemukan kontaknya, tetapi tidak berhasil. Dalam hati, aku terus berkata bahwa belum ada wanita lain yang bisa menggantikan tempatnya.

Setelah hampir dua tahun berlalu, aku akhirnya menemukannya kembali melalui media sosial. Perasaan bahagia bercampur gugup menyelimuti hatiku. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap atau bagaimana mengungkapkan perasaanku yang telah lama kupendam. Aku memutuskan untuk menunggu sedikit lebih lama sebelum berbicara dengannya.

Namun, aku melakukan kesalahan dengan mengganti nomor WhatsApp tanpa memberitahunya. Akibatnya, aku kembali kehilangan kontak dengannya. Aku merasa begitu kecewa dan sedih karena kesempatan yang sudah kudapatkan kembali hilang begitu saja. Aku mencoba mencari cara lain untuk menghubunginya, tetapi tetap tidak berhasil.

Meskipun begitu, aku tidak menyerah. Aku terus mencari cara hingga akhirnya berhasil mendapatkan kontaknya lagi melalui seorang teman dekat. Rasa gembira kembali menyapaku, tetapi di saat yang sama, ketakutan juga muncul. Aku tidak tahu apakah aku masih memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku.

Akhirnya, aku memutuskan untuk menyimpan perasaan itu lagi. Aku merasa tidak cukup percaya diri dan takut ditolak. Dalam hatiku, aku berpikir bahwa mungkin aku tidak cukup baik untuknya. Oleh karena itu, aku mulai membuka diri untuk mencari seseorang yang bisa membuatku bahagia.

Tak lama kemudian, aku menemukan wanita lain yang tidak kalah hebatnya. Bersamanya, aku merasa sangat bahagia. Aku menyadari bahwa Tuhan telah meluluhkan hatiku, yang dulu begitu tertuju padanya, dan mengarahkannya kepada seseorang yang lebih tepat. Aku pun bisa melanjutkan hidup dengan penuh kebahagiaan.

Kini, aku bersyukur atas semua pengalaman ini. Cinta yang kusembunyikan selama enam tahun ternyata tidak sia-sia. Dari perjalanan ini, aku belajar bahwa cinta sejati bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang memahami kapan harus melepaskan. Kebahagiaan bisa datang dari arah yang tidak terduga, dan terkadang, yang terbaik bukanlah yang kita inginkan, melainkan yang Tuhan berikan di waktu yang tepat.

Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi orang lain—bahwa cinta yang tersembunyi bukanlah kesia-siaan, dan bahwa kebahagiaan selalu menanti bagi mereka yang berani melangkah maju.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here