Nama: Miftahul Jannah
Jurusan: Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Wartawan LPM Qalamun
Di tengah tanah Jawa yang masih berada di bawah penjajahan Belanda, berdirilah keluarga bangsawan Djoderso yang disegani, bahkan oleh bangsa Belanda. Keluarga itu dipimpin oleh Sukardjo Djoderso, pemilik perkebunan luas yang dikenal tegas dan dihormati rakyatnya.
Sukardjo memiliki lima anak. Putri bungsunya, Ajeng Ayu Djoderso, menjadi sosok yang paling menarik perhatian. Parasnya cantik, tutur katanya lembut, namun pikirannya jauh lebih tajam dibandingkan perempuan lain seusianya. Sejak kecil, Ajeng diajarkan bahasa Belanda agar tidak mudah dibohongi penjajah.
Setelah lulus sekolah, Ajeng membuka kelas belajar kecil untuk anak-anak pekerja di perkebunan keluarganya. Ia percaya bahwa pribumi harus cerdas agar tidak terus diinjak oleh Belanda.
“Pribumi iku kudu pinter. Nek bodho terus, londo bakal terus nggunakke awake dhewe,” ucapnya pada murid-murid kecilnya.
(“Pribumi itu harus pintar. Jika terus bodoh, Belanda akan selalu memanfaatkan kita.”)
Suatu hari, seorang lelaki dari Ponorogo datang ke Yogyakarta, ke keluarga Djoderso. Namanya Abimanyu Nararya Manggala, putra sahabat lama Sukardjo yang datang untuk belajar mengelola perkebunan sekaligus berdiskusi tentang politik.
Abimanyu berbeda dari lelaki lain. Ia sopan, hangat, dan menghormati rakyat kecil. Kedekatannya dengan Ajeng tumbuh perlahan hingga keduanya saling jatuh cinta.
Malam sebelum kembali ke Ponorogo, Abimanyu menemui Ajeng di taman belakang rumah.
“Mas bakal balik, Dek,” ucapnya lirih.
(“Mas akan kembali, Dek.”)
“Mas bakal nyuwun restu marang Romo kanggo nglamar sampean.”
(“Mas akan meminta restu kepada Romo untuk melamar kamu.”)
Sejak malam itu, Ajeng menunggu. Ia bahkan merajut sebuah jaket hangat khusus untuk Abimanyu. Namun, beberapa bulan kemudian, surat dari keluarga Manggala datang membawa kabar duka: Abimanyu meninggal dunia.
Dunia Ajeng runtuh. Hari-harinya berubah sunyi. Ia sering duduk sendiri di bukit belakang perkebunan sambil memeluk jaket rajut yang tak sempat diberikan.
Melihat adiknya terus tenggelam dalam kesedihan, Heru Lakeswara Djoderso memperkenalkan Ajeng kepada sahabatnya, Danu Cahyo. Danu dikenal bijak, pandai berpolitik, dan dihormati banyak orang. Kehadirannya perlahan membuat Ajeng kembali membuka diri.
Namun, semakin dekat, Ajeng mulai menyadari sifat asli Danu. Lelaki itu terlalu ingin menguasai dirinya. Ia bahkan beberapa kali mengatakan bahwa perempuan seharusnya tidak ikut berbicara soal politik.
“Wedok iku luwih apik neng omah ae,” katanya suatu malam.
(“Perempuan itu lebih baik di rumah saja.”)
Hingga pada suatu malam, Danu mencoba menyentuh Ajeng secara paksa dengan alasan takut kehilangan dirinya. Kesabaran Ajeng pun runtuh.
“Sampean iki podo kyok londo, Mas,” ucap Ajeng dengan mata penuh amarah.
(“Kamu ini sama seperti bangsa Belanda, Mas.”)
“Bijak namung dadi cover e mawon, nanging nafsumu ora iso dikendalikne,” lanjutnya dengan tangan gemetar.
(“Bijak hanya menjadi penutup saja, tetapi nafsumu tidak bisa dikendalikan.”)
Sejak malam itu, hubungan mereka berakhir. Sukardjo dan seluruh keluarga Djoderso murka setelah mengetahui perlakuan Danu terhadap Ajeng. Hubungan kedua keluarga yang dahulu baik perlahan hancur. Namun ironisnya, di luar sana Danu tetap dikenal sebagai pria matang dan bijaksana.
Dari situlah Ajeng memahami satu hal: tidak semua penjajah datang dengan seragam Belanda. Ada yang datang dengan wajah tenang, ucapan lembut, dan ilmu tinggi, namun tetap memandang perempuan sebagai sesuatu yang bisa dimiliki.
Sejak saat itu, Ajeng memilih berhenti mencari cinta. Ia memusatkan hidupnya pada pendidikan rakyat pribumi dan mempelajari politik bersama ayahnya. Di tengah tanah jajahan, Ajeng Ayu Djoderso tumbuh menjadi perempuan yang memilih berdiri untuk dirinya sendiri.







