Oleh: Nur Syam Solehah
Wartawan LPM Qalamun
Langit bersinar terang, membentangkan warna biru tanpa kelabu. Sesekali angin laut bertiup, menerpa wajahnya dengan aroma asin yang khas. Ia merasa jenuh. Tugas kuliah menumpuk, jadwal tidur berantakan, dan rindu kampung halaman terus mengusik.
“Capek… pengen jadi ikan saja,” ucapnya kesal, sambil menendang pasir yang akhirnya mengotori rok panjangnya.
Bukan berarti ia putus asa. Ia hanya butuh jeda. Ruang untuk mengeluh, walau hanya pada laut dan langit. Bukan karena ia tak punya teman, tapi karena ia tak ingin membebani pikiran orang lain. Ia melangkah, satu-dua langkah di atas pasir putih, hingga tiba-tiba—
“Eh?” ujarnya pelan saat kakinya menginjak sebuah botol kaca yang tersembunyi di antara butiran pasir.
—
Libur semester seharusnya menjadi waktu yang ringan, tapi tidak tahun ini. Sebagai mahasiswa jurusan sastra yang kini mendekati semester akhir, aku justru mendapat tanggung jawab baru: menggantikan kakekku mengajar di studio lukis yang telah ia dirikan lebih dari tiga dekade lalu. Kakek, satu-satunya seniman yang dihormati di kota kecil ini, menatapku dengan mata yang menyimpan harap saat menyampaikan permintaannya.
“Sekali-kali kau bisa pulang, agar tak lupa dengan tanah tempatmu tumbuh,” katanya.
Aku mengiyakan. Setengah karena ingin menenangkan hatinya, setengah karena diam-diam aku rindu aroma tanah basah yang tak pernah bisa kutemui di kota besar. Di sela kesibukan tugas akhir dan analisis puisi yang seringkali membuatku lupa waktu, pulang terasa seperti jeda yang mendalam—tanpa aku tahu, jeda ini akan membawa cerita baru yang mungkin akan sulit terlupa.
Kelas dimulai hari Senin, dan dia hadir di hari pertama. Berdasarkan formulir yang kubaca, ia berasal dari ibu kota provinsi sebelah dan juga merupakan mahasiswi semester awal.
Gadis itu—yang kemudian selalu kuingat dalam hati sebagai si teduh—duduk di dekat jendela dengan sebuah kotak pensil tua di atas mejanya. Kursi itu menghadap ke arah bukit kecil dan hamparan sawah. Tatapannya tenang, seperti permukaan danau di pagi hari. Saat hujan turun pelan, dia menggambar garis-garis langit tanpa bicara. Bahkan cara ia diam terasa penuh makna, seolah langit pun mengerti bahwa ia sedang mengamati.
Dia tak banyak bicara. Tapi caranya memperlakukan warna dan cahaya, seolah alam adalah sahabat yang tak perlu dijelaskan. Di antara salah satu detik yang tidak pernah kurencanakan, mata kami bertemu. Ia memperlambat waktu hanya dengan menatap, dan entah kenapa, saat itu aku kehilangan daya untuk berkedip.
Ada rasa aneh yang mulai tumbuh. Bukan karena wajahnya, tapi karena ketenangan yang ia bawa. Gadis itu sederhana—selalu berpenampilan rapi dan teduh di balik jilbabnya yang anggun. Meskipun tertutup, hal itu tidak membatasi kelembutannya sebagai manusia. Ia menjaga jarak dengan sewajarnya, tapi tidak pernah membuatku merasa asing. Ia hadir seperti bumi di kala hujan—dingin, tenang, namun memberi hidup.
Suatu sore, kami berdiri di depan studio setelah kelas selesai. Ia selalu menjadi yang terakhir pulang. Dan aku, tentu saja, harus menunggunya sebagai pemegang kunci studio. Hujan mengguyur ringan, membasahi pinggiran jalan yang ditumbuhi bunga rumput liar.
“Lagi tunggu dijemput pasangannya, ya?” tanyaku pelan, setengah ragu. Satu pertanyaan bodoh yang terucap entah karena ingin tahu, atau karena berharap aku punya kesempatan untuk menjadi seseorang yang ia tunggu.
Dia diam sejenak, menatap air yang mengalir pelan di aspal.
“Kadang orang menyangka aku sedang menunggu seseorang,” ujarnya pelan. “Padahal aku bahkan belum bisa membayangkan sebuah hubungan.”
Aku menoleh, menatapnya hati-hati. “Kenapa?”
Ia tersenyum samar, lalu menjawab, “Karena aku terlalu naif. Selera makanku saja bisa berubah seminggu tiga kali. Hari ini suka yang manis, besok bisa tiba-tiba cari yang asin.” Ia tertawa kecil. Tapi matanya, tak tertawa.
Aku mengangguk. Aku jadi teringat kotak pensil yang selalu ia bawa. Mungkin itu sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Mungkin dia tidak senaif itu, pikirku. Meski tak semuanya ia ucapkan, aku mengerti. Ia bukan takut tak bisa memberi, menghargai, atau membalas. Tapi ia takut tenggelam terlalu dalam, lalu tak tahu jalan pulang.
Beberapa saat kemudian, ia pergi bersama taksi online yang telah ia pesan sebelumnya.
—
Beberapa hari setelahnya, seusai kelas, saat langit sore menggantung kelabu, aku melihatnya mencoba menyalakan motornya. Ia berkali-kali berusaha, tapi mesin tak juga mau menyala. Aku mendekat pelan.
“Mau kubantu?” tawarku.
Dia menoleh, tersenyum tipis. “Tidak apa, aku coba dulu.”
Ia tetap mencoba. Sekali, dua kali, hingga akhirnya mesin menyala. Tangannya sedikit gemetar, tapi wajahnya tampak puas. Ia pamit dengan anggukan kecil.
Entah karena khawatir, atau karena ingin memastikan, aku mengikutinya dari jauh. Tak terlalu dekat—cukup agar tetap tak terlihat. Motor maticnya melaju perlahan di jalan basah, hingga berhenti di persimpangan yang tak jauh dari tempat tinggalku dulu. Saat ia berbelok dan menghilang dari pandangan, ada rasa aneh di dada. Bukan kehilangan, bukan pula rindu. Mungkin hanya rasa syukur—karena bisa menyaksikan keteguhan yang tak banyak bicara.
Tak lama lagi libur semester akan usai. Semuanya akan kembali menjadi normal. Tapi bagaimana jika setiap esok justru memperlihatkan lebih banyak tentangnya? Tentang hal-hal yang membuatku semakin sulit membayangkan hari-hari tanpa gerimis, tanpa langit mendung, dan tanpa sosoknya yang hadir seperti bumi di kala hujan.







