PALU, LPMQALAMUN.com – Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Menui Kepulauan (IPPMMK) Kota Palu menggelar Dialog Publik yang dirangkaikan dengan kegiatan Nonton Bareng (nobar) pada Kamis (5/6/2025) di Macen Coffee Box, Sungai Wera Kalikoa, Palu.
Dialog publik tersebut mengangkat tema “Suara Pemuda untuk Bumi Sulawesi Tengah dalam Mengurangi Kompleksitas Isu Pertambangan”. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Umum IPPMMK, Najar, dan dihadiri oleh sejumlah mahasiswa serta pemuda dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah.
Dalam keterangannya, Najar menyampaikan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kondisi pertambangan di Sulawesi Tengah, khususnya di wilayah-wilayah yang telah diklasifikasikan sebagai zona pertambangan seperti Kabupaten Morowali dan Morowali Utara.
“Sesuai dengan tema, kami ingin mengajak mahasiswa untuk lebih memahami proses pertambangan di Sulawesi Tengah. Tidak bisa dipungkiri, aktivitas pertambangan di daerah ini masih menyisakan banyak persoalan. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan edukasi mengenai tata kelola pertambangan yang beretika,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan edukasi dan kesadaran kepada mahasiswa serta masyarakat mengenai langkah-langkah strategis dalam menghadapi kompleksitas isu pertambangan.
Adapun narasumber yang dihadirkan antara lain: Taufik, Ketua Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Albar, Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Morowali (IP2MM), Rahman Musa, Presiden Mahasiswa (Presma) UIN Datokarama Palu.
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Sementara itu, kegiatan nonton bareng yang menjadi bagian dari rangkaian acara dikenakan biaya registrasi sebesar dua ribu rupiah per orang.
Secara teknis, kegiatan berlangsung dengan lancar tanpa kendala berarti. Namun, panitia tetap mengantisipasi potensi gangguan cuaca.
“Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar. Kami hanya bersikap waspada terhadap perubahan cuaca,” ujar Najar.
Ia berharap kegiatan ini dapat membangkitkan kesadaran mahasiswa dan pemuda untuk lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan di Sulawesi Tengah.
“Baru-baru ini, wilayah wisata seperti Raja Ampat menjadi sorotan akibat aktivitas pertambangan yang dilakukan pihak tidak bertanggung jawab. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengedukasi mahasiswa bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab kita bersama,” tutupnya.
Wartawan: Lara, Alister







