Oleh : Reski Amalia Ramadhani
Pengurus Redaksional
Namaku Eki.
Dan aku sedang menjalankan misi paling melelahkan dalam hidupku: mencari cinta sejati — cinta yang katanya bikin bahagia, bikin hidup berwarna, dan bikin senyum-senyum sendiri kayak orang kesetrum setengah watt.
Masalahnya, aku belum pernah nemuin itu.
Yang kutemui justru orang-orang yang terlihat terlalu bahagia sampai mengganggu ketenanganku.
Tania, temanku, yang dulu cuek dan logis, sekarang tiap hari upload foto bareng pacarnya dengan caption, “My forever 🩵.”
Sementara aku? Aku cuma upload foto makanan dengan caption, “Nasi goreng gak pernah ninggalin aku.”
Tapi entah kenapa, aku mulai penasaran juga.
Masa iya cinta bisa bikin orang se-ajaib itu?
Akhirnya aku memutuskan: aku akan mencari cinta, biar tahu apa hebatnya perasaan yang katanya bisa bikin hidup jadi film romantis itu.
Percobaan Pertama: Cinta di Kafe.
Kata orang, cinta sering datang di tempat tak terduga.
Jadi aku nongkrong di kafe sendirian, pura-pura sibuk ngetik padahal cuma scroll diskon Shopee.
Aku melihat seorang cowok tampan datang, dan dengan segala keberanian, aku “tidak sengaja” menabraknya.
Kopinya tumpah, bajuku basah, dia panik.
Aku pikir, nah, ini momen klise pertemuan pertama.
Tapi tiba-tiba seorang cewek datang sambil teriak, “Sayang, kamu kenapa?”
Ya sudah. Ternyata cowok itu bukan jodoh, tapi bahan pelajaran: jangan cari cinta di kafe, nanti malah dapat noda latte dan trauma sosial.
Percobaan Kedua: Cinta di Media Sosial.
Aku ganti strategi.
Aku bikin bio Instagram: “Perempuan absurd yang butuh seseorang buat ketawa bareng sampai lupa tanggal.”
Lucu kan? Minimal bisa menarik perhatian.
Hasilnya?
Yang nge-DM cuma akun jualan skincare, satu cowok yang nawarin bisnis online, dan satu akun misterius yang nanya, “Kak, minat jadi reseller madu hutan gak?”
Aku mulai merasa cinta itu mungkin gak pakai kuota internet.
Percobaan Ketiga: Cinta di Acara Nikahan.
Kata orang, nikahan itu tempat terbaik buat nemu pasangan.
Bunga-bunga, musik lembut, suasana romantis — sempurna!
Tapi begitu aku datang, yang nyamperin malah tante-tante.
“Eki, kamu udah kerja ya? Kapan nyusul?”
Aku cuma bisa senyum kaku sambil nahan air mata (dan emosi).
Tante, saya ke sini buat cari cinta, bukan ditekan untuk jadi mempelai berikutnya!
Akhirnya aku menyerah.
Aku duduk di taman sendirian, menatap pasangan muda yang makan es krim sambil ketawa kecil.
“Ya Tuhan, apanya yang romantis sih dari rebutan sendok es krim?” gumamku.
Tiba-tiba, seorang penjual cilok datang.
“Mbak, ciloknya lima ribu ya.”
Aku senyum lemas, “Mas, aku beli dua tusuk. Biar gak sendirian.”
Dia tertawa, lalu dengan santai berkata, “Mbak jomblo ya?”
Aku mendesah. “Heh, Mas, ini cilok bukan sesi curhat.”
Kami pun ngobrol ringan. Aku, tanpa sadar, curhat tentang pencarianku yang gagal-gagal terus.
Mas cilok itu cuma nyengir dan berkata, “Mbak, cinta itu gak harus dicari, loh. Kadang udah ada di sekitar, cuma Mbaknya aja sibuk ngelihat yang jauh.”
Aku terdiam.
Dia melanjutkan, “Cinta itu gak melulu soal pasangan. Bisa cinta sama keluarga, teman, pekerjaan, bahkan diri sendiri. Kalau hatinya udah penuh sama itu, baru cinta ke orang lain datang dengan sendirinya.”
Entah kenapa, kata-kata itu sederhana tapi kena banget.
Aku melihat sekeliling — seorang ibu menggandeng anaknya, sepasang lansia duduk di bangku taman sambil berbagi air minum, sekelompok anak kecil tertawa mengejar bola plastik.
Mereka semua terlihat… bahagia.
Dan tiba-tiba aku sadar, mungkin aku salah selama ini.
Cinta yang kucari-cari bukan tentang seseorang yang datang membawa bunga, tapi tentang rasa hangat yang tumbuh dari hal-hal kecil di sekitar.
Cinta itu saat Ibu selalu nanyain, “Udah makan, Ki?”
Cinta itu saat sahabat tetap dengar curhatku meski sudah bosan.
Cinta itu bahkan saat aku belajar menghargai diriku sendiri — termasuk semua kegagalan lucu dalam perjalanan ini.
Aku menatap cilok di tanganku dan tertawa pelan.
Mungkin cinta sejati memang sesederhana ini — gak perlu dramatis, cukup tulus.
Dan siapa tahu, di tengah kejujuran kecil seperti ini… cinta yang katanya ada itu, ternyata sudah menemaniku dari awal.







