Home CERPEN Laut yang Tak Menenangkan

Laut yang Tak Menenangkan

113
0

Oleh : Reski Amalia Ramadhani
Pengurus Redaksional

Aku selalu membenci lautan.
Bukan karena ia pernah merenggut siapa pun dariku, tapi karena ia tak pernah memberiku ketenangan yang dijanjikan orang-orang.

Mereka bilang laut adalah tempat paling damai di dunia.
Katanya, duduk di tepi pantai sambil menatap ombak bisa membuat hati tenang. Katanya, suara debur ombak bisa menenangkan pikiran yang kusut.
Tapi bagiku, laut justru berisik.
Ombaknya terlalu ribut, anginnya terlalu kasar, dan aroma asin itu membuat dadaku sesak, seolah semua kegelisahan hidupku ikut menguap di sana.

Aku pernah mencoba, sungguh.
Aku pergi ke pantai setiap kali dunia terasa terlalu berat — ketika kuliah tak sesuai harapan, ketika teman menjauh, ketika hidup terasa seperti labirin tanpa pintu keluar. Aku duduk di pasir, menatap garis biru yang tak berujung, berharap sesuatu di dalam diriku ikut hening. Tapi tidak. Laut tak pernah memberi apa pun selain gema kosong yang memantulkan pikiranku sendiri.

Setiap ombak datang, seakan ada suara yang berbisik, “Kau tidak akan pernah menemukan apa yang kau cari di sini.”
Dan aku percaya.
Laut hanyalah pengingat bahwa aku masih gelisah, masih berputar di dalam kepala yang tak tahu arah pulang.

Suatu hari, aku bertemu seorang nelayan tua di dermaga. Ia melihatku menatap laut dengan wajah kesal.
“Tidak semua orang cocok dengan laut,” katanya, sambil menyalakan rokok.
Aku menatapnya, lalu bertanya, “Bukankah laut itu tenang bagi semua orang?”
Ia tertawa pelan. “Tenang itu bukan dari laut, Nak. Tenang itu dari dalam diri. Kalau hatimu masih bergejolak, laut cuma cermin yang memantulkan badai itu.”

Kata-katanya menempel di pikiranku seperti pasir yang sulit dibersihkan.
Sejak saat itu, aku mulai berpikir: mungkin aku bukan membenci laut. Mungkin aku membenci diriku sendiri yang belum bisa berdamai.

Tapi tetap saja, aku belum bisa menyukai laut.
Aku masih menganggapnya tempat yang terlalu jujur.
Di darat, aku bisa pura-pura tenang; di laut, tidak. Laut menelanjangiku — memperlihatkan betapa rapuhnya aku, betapa mudahku goyah.

Kini, setiap kali seseorang mengajakku ke pantai, aku hanya tersenyum kecil.
Mereka tak tahu bahwa laut bukan sekadar hamparan air bagiku. Laut adalah ruang kosong yang menolak menenangkanku, karena ia tahu, aku belum siap untuk diam.

Mungkin suatu hari aku akan kembali ke sana, bukan untuk mencari ketenangan, tapi untuk menerima ketidaktenangan itu sendiri.
Dan jika hari itu tiba, mungkin aku tak lagi membenci laut — bukan karena ia berubah, tapi karena aku akhirnya berhenti berharap ia bisa menenangkan sesuatu yang seharusnya kutenangkan sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here