Home CERPEN Cemaraku

Cemaraku

128
0

Oleh: Salsabila Putri
Wartawan LPM Qalamun

Hari pertama perkuliahan terasa begitu asing. Gedung-gedung tinggi, lorong yang berliku, dosen dengan wajah yang belum dikenali—semuanya membuat suasana canggung. Namun, dari keramaian itu, takdir mempertemukan tujuh mahasiswa baru di dalam satu kelas.

Awalnya, mereka hanya saling menyapa dan memperkenalkan nama masing-masing. Dari situ, persahabatan mereka mulai tumbuh. Mereka sering bersama: makan di kantin kampus dengan menu sederhana, belajar kelompok di kos, hingga begadang semalaman untuk menyelesaikan tugas dari dosen.

Beberapa hari kemudian, mereka membuat grup untuk saling bertukar cerita, menerima informasi kampus, hingga sekadar berbagi wacana ringan. Nama grup itu: Bismillah S3 Doktor.

Hilda: si gamon nomor satu, tapi selalu memberikan nasihat dan masukan untuk teman-temannya, tak lupa juga selalu main Roblox.

Putri: si cerewet sekaligus paling random dengan humornya, mampu mencairkan suasana di kelas maupun saat berkumpul.

Selfy: orangnya ceria abis, pintar di segala mata kuliah, dan tak ketinggalan update tren TikTok.

Fitria: Masyallah, galaknya kadang bikin kaget, tapi baik hati. Si paling sering main game, hampir mirip Putri.

Syalwa: paling adik, selalu membawa bekal, bucin parah, dan selalu mengingatkan teman-temannya untuk tidak menyerah.

Devi: jago memasak apapun. Ketika kumpul, ia selalu memasak untuk semua, dan ia masih jomblo, hehe.

Sara: paling soleha, peka, pendengar setia keluh kesah teman-temannya. Ia menjadi “Bunda” bagi mereka semua.

Mereka melewati banyak hal bersama: tertawa ketika salah presentasi, hingga saling memeluk saat salah satu dari mereka menghadapi masalah.

Suatu hari, Hilda mengajak semua untuk foto studio dan langsung mengirim pesan di grup:
“Fixx harus jadi!”
“Ihh ayoo gass lah!”
“Pokoknya hari ini otw!”

Semua setuju. Namun, kemudian Selfy menulis:
“Sorry guys, saya nggak bisa, lagi nggak enak badan.”
“Yahh, lengkap kita ini?”

Selfy akhirnya tetap muncul. “Te apa-apa kalian lah, nanti lain kali saya ikut.”

Mereka pun berkumpul di kos Devi pukul 03.00 sore. Memperbaiki jilbab dan make-up sedikit, mereka begitu excited dan menghabiskan waktu penuh canda tawa. Malamnya, pulang ke rumah masing-masing dengan hati senang dan ponsel penuh foto-foto.

Momen itu membuat mereka semakin menyadari betapa berharganya kebersamaan. Mereka bukan hanya sekadar sahabat, tapi keluarga yang Tuhan titipkan.

“Semoga suatu hari nanti kita lebih lengkap lagi. Sayang kalian, cemaraku, tetap bertahan sampai wisuda, ya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here