Home PUISI ‎Bayang di Langit Sunyi: Paradox Tak Berujung

‎Bayang di Langit Sunyi: Paradox Tak Berujung

122
0

Oleh : Sirajul Fuad
Wartawan Magang
‎
‎Di lantai kayu yang dingin, sunyi mencekik, ‎Bukan dingin udara, namun jerat dosa yang mendesak.
‎
Hari-hari terbuang, hiruk-pikuk hampa tanpa jiwa, ‎Pondasi berbakti runtuh, waktu dirampas sia-sia.
‎
‎Aku adalah metafora kejam: bunga di atas mayat, ‎Tawa dan capaian palsu, tumbuh di tanah busuk kelalaian.
‎
‎Hati menjadi padang tandus, kebahagiaan sejati layu, ‎Luka lama berbekas, trauma mencetak jiwa pilu.
‎
‎Jembatan rapuh antara insan dan malaikat,‎Terjerembab dalam nista, kotor tak terelak.
‎
‎Keyakinan gila merayap: surga dan neraka menolak, ‎Terasing di limbo gelap, entitas yang terperangkap.
‎
‎Tangisan pecah, bukan lagi tetesan penyesalan, ‎Banjir air mata, membersihkan raga yang tak tersucikan.
‎
‎Seperti air memandikan jenazah, membersihkan yang mustahil suci,
‎Pedih trauma membekas, mata perih coba mencari arti.
‎
‎Kudongak ke langit-langit, mencari keagungan tak terbatas, menanti sepercik ampunan, seberkas cahaya lepas.
‎
‎Namun langit di luar kelam, tiada fajar membalas tatapan, ‎Hanya kegelapan abadi, jurang yang tanpa harapan.
‎
‎Dosa dan Kematian, dingin memeluk erat, mencekik,‎Pelukan yang merenggut, jauh dari hangat keluarga yang terpekik.
‎
‎Terseret ke jurang eksistensi, perihnya terperangkap, ‎Mati dalam keadaan hidup, tragedi yang terungkap.
‎
‎Kututup mata, tangisan menjelma doa paling jujur, ‎Di antara mayat dan bunga, jiwa yang merangkak hancur.
‎
‎Di bawah langit yang sunyi, kuajukan harap pada fajar, ‎Untuk pengampunan, atau keberanian bangkit dari kematian yang benar.
‎

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here