Oleh : Sirajul Fuad
Wartawan Magang
Di lantai kayu yang dingin, sunyi mencekik, Bukan dingin udara, namun jerat dosa yang mendesak.
Hari-hari terbuang, hiruk-pikuk hampa tanpa jiwa, Pondasi berbakti runtuh, waktu dirampas sia-sia.
Aku adalah metafora kejam: bunga di atas mayat, Tawa dan capaian palsu, tumbuh di tanah busuk kelalaian.
Hati menjadi padang tandus, kebahagiaan sejati layu, Luka lama berbekas, trauma mencetak jiwa pilu.
Jembatan rapuh antara insan dan malaikat,Terjerembab dalam nista, kotor tak terelak.
Keyakinan gila merayap: surga dan neraka menolak, Terasing di limbo gelap, entitas yang terperangkap.
Tangisan pecah, bukan lagi tetesan penyesalan, Banjir air mata, membersihkan raga yang tak tersucikan.
Seperti air memandikan jenazah, membersihkan yang mustahil suci,
Pedih trauma membekas, mata perih coba mencari arti.
Kudongak ke langit-langit, mencari keagungan tak terbatas, menanti sepercik ampunan, seberkas cahaya lepas.
Namun langit di luar kelam, tiada fajar membalas tatapan, Hanya kegelapan abadi, jurang yang tanpa harapan.
Dosa dan Kematian, dingin memeluk erat, mencekik,Pelukan yang merenggut, jauh dari hangat keluarga yang terpekik.
Terseret ke jurang eksistensi, perihnya terperangkap, Mati dalam keadaan hidup, tragedi yang terungkap.
Kututup mata, tangisan menjelma doa paling jujur, Di antara mayat dan bunga, jiwa yang merangkak hancur.
Di bawah langit yang sunyi, kuajukan harap pada fajar, Untuk pengampunan, atau keberanian bangkit dari kematian yang benar.







