Home CERPEN Di balik Layar yang Retak

Di balik Layar yang Retak

77
0

Oleh: Salsani Septiana
Jurusan: Manajmen Pendidikan Islam
Wartawan LPM Qalamun

Sejak kecil, aku selalu merasa hidupku bagai magnet kesialan. Bukan karena aku menginginkannya, tetapi setiap hal buruk seolah selalu menemukan aku lebih dulu. Di sekolah, aku punya teman, setidaknya mereka menyebut diri mereka begitu. Bagiku, mereka lebih mirip orang-orang yang tahu kapan harus datang dan kapan harus memanfaatkan.

Aku selalu diminta mengerjakan tugas kelompok sendirian. Uang sakuku sering “dipinjam” tanpa pernah kembali. Jika ada masalah, namaku yang disebut. Jika ada kesalahan, aku yang disuruh mengalah. Aku ingin menolak, sungguh. Namun setiap kali aku membuka mulut, rasa takut datang: takut ditinggalkan, takut sendirian. Padahal sebenarnya aku sudah sendirian sejak lama.

Aku menyimpan semua perasaan itu sendiri. Tidak pada siapa pun, kecuali pada ponselku. Di dalam catatan pribadiku, aku menuliskan segalanya rasa sakit, amarah, kekecewaan, dan pertanyaan yang selalu sama: kenapa harus aku?

Hari itu menjadi hari yang berbeda.

Salah satu dari mereka kembali memintaku mengerjakan tugas. Dadaku terasa sesak, tanganku gemetar. Tetapi entah dari mana, keberanian itu muncul.

“Tidak,” kataku lirih.

Mereka terdiam sejenak, lalu tertawa. Mereka mengira aku bercanda. Namun aku tidak menarik ucapanku. Untuk pertama kalinya, aku memilih diriku sendiri.

Sejak saat itu, perlakuan mereka berubah.

Aku dijauhi. Bisikan-bisikan mulai terdengar. Tatapan mereka dingin, seolah aku telah melakukan kesalahan besar. Aku disebut egois, sok kuat, tak tahu diri. Rasanya sakit, tetapi anehnya aku juga merasa sedikit lega. Setidaknya kali ini, luka itu datang karena pilihanku sendiri.

Puncaknya terjadi suatu hari.

Aku meninggalkan ponselku di meja kelas saat pergi ke kamar mandi. Ketika kembali, suasana kelas terasa aneh. Beberapa dari mereka menatapku dengan wajah yang tak biasa. Aku baru tahu kemudian, salah satu dari mereka membuka catatan pribadiku.

Tulisan–tulisan itu telah mereka baca.
Tentang bagaimana aku merasa dimanfaatkan. Tentang betapa lelahnya aku berpura-pura baik-baik saja. Tentang keinginanku untuk menghilang karena merasa tak pernah dianggap ada.

Tak ada tawa hari itu.

Untuk pertama kalinya, mereka melihatku sebagai manusia, bukan alat. Beberapa menunduk, beberapa meminta maaf. Perlakuan mereka berubah, lebih hati-hati, lebih pelan, dn lebih manusiawi.

Aku pikir, mungkin inilah akhir dari semua kesialan itu. Mungkin aku akhirnya bisa bernapas lega.

Namun, tiba-tiba

Aku terbangun.

Kamar masih gelap. Nafasku tidak beraturan. Ponselku ada di samping bantal, layar mati, tanpa catatan terbuka. Semua itu… tidak pernah terjadi.

Itu hanya mimpi.

Aku menatap langit-langit kamar, membiarkan kenyataan kembali menghantamku. Namun mimpi itu meninggalkan sesuatu di dalam diriku, sebuah keberanian kecil yang belum pernah ada sebelumnya.

Mungkin, suatu hari nanti, aku akan benar-benar mengatakan “tidak”.

Dan kali ini, aku berharap itu bukan sekadar mimpi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here