Oleh: Rennu Alifah Rahma
Jurusan: Sistem Informasi
Wartawan LPM Qalamun
Bencana alam belakangan ini kian sering menghiasi pemberitaan. Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem datang silih berganti di berbagai daerah. Peristiwa tersebut kerap dianggap sebagai takdir atau gejala alam semata. Namun, anggapan itu patut dipertanyakan. Banyak bencana justru dipicu oleh kelalaian manusia dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Kerusakan lingkungan tidak terjadi dalam waktu singkat. Penebangan hutan tanpa kendali, pengelolaan sampah yang buruk, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, serta pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan telah memperlemah fungsi alam. Ketika hutan tidak lagi mampu menyerap air dan ekosistem kehilangan keseimbangannya, bencana menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Ironisnya, kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sering kali muncul setelah bencana terjadi. Saat banjir merendam permukiman atau longsor merenggut mata pencaharian, barulah muncul seruan kepedulian terhadap alam. Padahal, upaya pelestarian lingkungan seharusnya dilakukan secara berkelanjutan dan bersifat pencegahan, bukan sekadar respons sesaat setelah bencana.
Tanggung jawab menjaga lingkungan tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah atau kelompok tertentu. Masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya. Kebiasaan sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik, tidak membuang sampah sembarangan, serta bersikap kritis terhadap kebijakan yang berpotensi merusak lingkungan, merupakan langkah nyata yang dapat dilakukan bersama.
Pada akhirnya, alam tidak pernah “marah”. Bencana hanyalah reaksi atas perlakuan manusia terhadap lingkungan. Jika kerusakan terus dibiarkan, peringatan dalam bentuk bencana akan terus berulang. Menjaga lingkungan berarti menjaga keberlangsungan hidup manusia itu sendiri, hari ini dan di masa depan.







