Home OPINI Ketika Angka Menjadi Tolak Ukur Eksistensi

Ketika Angka Menjadi Tolak Ukur Eksistensi

6
0

Nama: Nur Fahmi Ridhana
Jurusan: Pendidikan Agama Islam
Wartawan LPM Qalamun

Di era digital, angka tidak lagi sekadar alat ukur statistik, melainkan telah berubah menjadi simbol pengakuan sosial. Jumlah pengikut, tanda suka, komentar, hingga jumlah tayangan kerap dijadikan standar untuk menilai popularitas, keberhasilan, bahkan harga diri seseorang. Fenomena ini terlihat jelas di media sosial. Banyak orang merasa lebih percaya diri ketika unggahannya memperoleh respons tinggi. Sebaliknya, unggahan yang sepi interaksi sering kali memunculkan perasaan tidak dihargai. Akibatnya, eksistensi seseorang perlahan diukur berdasarkan angka yang tampil di layar, bukan pada kualitas diri atau kontribusi nyata.

Kondisi ini diperkuat oleh budaya validasi digital yang berkembang pesat. Banyak pengguna media sosial, secara tidak sadar, membandingkan kehidupannya dengan orang lain yang tampak lebih sukses, menarik, atau populer. Penelitian dalam BioMed Central (BMC) Public Health tahun 2024 menunjukkan bahwa fokus berlebihan pada pencitraan diri dan pencarian validasi di media sosial berkaitan dengan meningkatnya gejala kecemasan dan depresi pada remaja. Semakin besar dorongan untuk mendapatkan pengakuan secara daring, semakin tinggi pula risiko terganggunya kesehatan mental.

Fenomena tersebut juga tampak di kalangan pelajar dan mahasiswa. Tidak sedikit yang menganggap unggahannya gagal hanya karena memperoleh sedikit tanda suka dibandingkan milik teman-temannya. Bahkan, ada yang menghapus foto atau video yang dianggap kurang populer. Padahal, nilai seseorang tidak dapat ditentukan oleh algoritma platform digital. Ketika angka menjadi pusat perhatian, individu cenderung mengabaikan proses belajar, pengalaman hidup, dan hubungan sosial yang justru lebih bermakna daripada popularitas sesaat.

Data terbaru menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap dampak media sosial semakin meningkat. Survei Pew Research Center tahun 2025 mencatat, sebanyak 48 persen remaja menilai media sosial memberikan dampak yang sebagian besar negatif terhadap kehidupan mereka. Angka ini meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Selain itu, 45 persen remaja mengaku menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa generasi muda mulai menyadari tekanan yang muncul akibat budaya angka dan validasi digital.

Pada akhirnya, angka memang dapat menggambarkan jangkauan atau popularitas, tetapi tidak layak dijadikan ukuran utama eksistensi manusia. Nilai seseorang dibentuk oleh karakter, kemampuan, integritas, serta dampak yang diberikan kepada lingkungan sekitarnya. Media sosial seharusnya menjadi sarana berbagi informasi dan membangun relasi, bukan arena perlombaan untuk mengumpulkan angka. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa eksistensi diri tidak ditentukan oleh jumlah pengikut atau tanda suka, melainkan oleh kualitas diri yang terus berkembang dari waktu ke waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here