Nama: Nur Fahmi Ridhana
Jurusan: Pendidikan Agama Islam
Wartawan LPM Qalamun
Di era modern yang dipenuhi teknologi dan arus informasi tanpa batas, membaca menjadi salah satu kemampuan paling penting untuk dimiliki. Membaca tidak hanya sekadar memahami tulisan, tetapi juga melatih cara berpikir, memperluas wawasan, serta membantu seseorang memahami dunia secara lebih kritis. Namun, di tengah kemudahan akses informasi saat ini, banyak orang justru mulai kehilangan kebiasaan membaca secara mendalam. Media sosial dan konten singkat membuat masyarakat lebih terbiasa menerima informasi instan daripada memahami suatu isu secara utuh.
Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak anak muda lebih menghabiskan waktu menonton video pendek dibandingkan membaca buku atau artikel panjang. Perpustakaan kerap sepi, sementara media sosial dipenuhi informasi yang belum tentu benar. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih mudah terpengaruh hoaks, provokasi, dan opini tanpa dasar yang kuat. Kondisi ini menunjukkan bahwa rendahnya budaya membaca tidak hanya berdampak pada pendidikan, tetapi juga pada cara masyarakat berpikir dan mengambil keputusan.
Data penelitian turut memperkuat kondisi tersebut. Berdasarkan laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai tingkat minimum literasi membaca. Selain itu, skor membaca Indonesia pada PISA 2022 mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Fakta ini menegaskan bahwa budaya membaca di Indonesia masih menjadi tantangan besar yang perlu mendapat perhatian bersama.
Di sisi lain, UNESCO menyatakan bahwa literasi memiliki hubungan erat dengan kualitas hidup masyarakat. Membaca dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, memperbesar peluang kerja, serta memperkuat kemampuan beradaptasi di era digital. Dalam dunia modern yang penuh persaingan, kemampuan membaca menjadi modal penting untuk berkembang. Individu yang memiliki kebiasaan membaca cenderung lebih mudah memahami perubahan, mencari solusi, dan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Meski demikian, perkembangan teknologi juga dapat menjadi peluang untuk meningkatkan minat baca. Saat ini, muncul berbagai komunitas digital seperti Booktok dan Bookstagram yang mendorong budaya membaca di kalangan anak muda. Banyak orang mulai tertarik membaca melalui rekomendasi buku di media sosial. Hal ini membuktikan bahwa generasi modern tetap memiliki minat membaca, hanya saja membutuhkan pendekatan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Pada akhirnya, membaca adalah kekuatan yang mampu membentuk masa depan, baik bagi individu maupun bangsa. Negara maju tidak hanya ditopang oleh teknologi canggih, tetapi juga oleh masyarakat yang memiliki wawasan luas dan kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, kebiasaan membaca harus kembali dibangun, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Sebab, perubahan besar selalu berawal dari pengetahuan, dan pengetahuan lahir dari membaca.







