Oleh : Haura Hafidzah
Wartawan Magang
Pada malam yang sunyi senyap, aku terjaga dari peraduan, Teringat akan dosa yang telah kuperbuat, Sehingga rasa bersalah merendung pada diri, Merasa tak layak menyandang gelar umat dari pribadi yang amat mulia.
Ya rasulallah, apakah aku yang penuh dosa ini masih pantas menyandang gelar sebagai umatmu?
Mengingat betapa banyak kelalaian yang kuperbuat, tanpa mengingat perjuanganmu di masa lalu.
Ya rasulallah, kasih sayangmu kepada kami
Tiada berbatas, bahkan hingga detik akhir hayatmu engkau masih menyebut kami,
“Ummati…..ummati….ummati”
Kata terakhir yang terucap dari lisan muliamu.
Kami hanya dapat mengharapkan syafaatmu, dan dapat berharap berkumpul bersamamu di syurga kelak, shalawat selalu kulantunkan, dan doa selalu kupanjatkan, serta air mata yang menetes tanpa henti, dengan harapan dapat bertemu denganmu walau perantara mimpi.
Karena sesungguhnya hati ini tidak dapat berbohong menyimpan kerinduan padamu wahai kekasih Allah, sungguh kami sangat merindukanmu.







