Oleh: Muh Ezwansya Lapato
Wartawan LPM Qalamun
Agustus ini, delapan dekade telah berlalu sejak proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Sebuah usia yang semestinya menjadi lambang kedewasaan negara: matang secara politik, kuat secara ekonomi, dan terbuka secara budaya. Tapi kenyataan justru menghadirkan cerita lain—cerita tentang bendera bajak laut anime yang dilarang, yang dianggap perlawanan, bahkan diancam melanggar hukum dan hak asasi manusia.
Ya, benar. Pemerintah Indonesia resmi melarang penggunaan bendera Straw Hat Pirates dari anime One Piece. Bendera yang menampilkan tengkorak tersenyum dengan topi jerami ini dianggap “sebagai simbol perlawanan terhadap negara” dan “mengandung simbol subversif yang dapat mengganggu ketertiban umum.” Bahkan aparat pemerintah melakukan perlawanan dan ancaman terhadap masyarakat untuk mempergunakan bendera simbol tersebut.
Sekilas, keputusan ini terdengar seperti parodi. Tapi sayangnya, ini nyata. Dan justru karena nyata, kita harus bertanya: kenapa negara yang sudah 80 tahun merdeka takut pada selembar bendera kartun? Apakah mereka takut akan keadilan sebuah negara?
Jawabannya mungkin terletak pada makna simbolis bendera itu sendiri, dan betapa ia mencerminkan kenyataan kita hari ini, dan mungkin sampai ke depannya.
Simbol tengkorak? Dalam budaya umum, itu lambang kematian. Tapi dalam konteks One Piece, tengkorak tersenyum itu bukan sekadar lambang kematian, melainkan perlawanan terhadap sistem yang korup dan penuh penindasan. Ia simbol kebebasan, pemberontakan terhadap tirani, dan solidaritas sesama tertindas.
Sekarang, lihat Indonesia hari ini. Kita punya sistem hukum yang masih tumpul ke atas, pejabat yang bisa bebas meski tersandung kasus besar, dan rakyat kecil yang dipaksa diam lewat berbagai aturan. Korupsi masih marak, tapi yang dikejar justru rakyat biasa yang menyuarakan keresahannya lewat simbol, meme, atau bahkan bendera fiksi. Tengkorak tersenyum ini terasa seperti refleksi: wajah sistem yang sudah lama kehilangan ruh keadilan, tapi tetap tampil santai, seolah semuanya baik-baik saja.
Lalu topi jerami di atasnya? Itu adalah simbol harapan—kerakyatan, kesederhanaan, dan impian tentang dunia yang adil. Di anime, Luffy memakai topi itu sebagai lambang tekad untuk melindungi yang lemah dan melawan ketidakadilan. Di dunia nyata Indonesia, topi jerami malah terasa seperti sarkasme. Karena pejabat kita dulu suka tampil merakyat: pakai sarung, makan di warteg, naik motor bebek. Tapi setelah berkuasa? Topinya diganti dengan topi kuasa, bahkan kebijakan mereka sudah berbeda saat berada di kursi kekuasaan.
Dan ketika simbol ini menjadi terlalu populer di kalangan muda, bahkan sampai yang tua, negara panik. Karena mereka sadar: cerita dalam One Piece terlalu nyata untuk keadaan Indonesia sekarang, di mana para penguasa melakukan seenaknya terhadap negara, tambang ilegal ada di mana-mana, dan para koruptor terus-menerus dilindungi dan ditutupi.
Dalam konteks inilah, pelarangan bendera One Piece menjelang ulang tahun ke-80 Indonesia menjadi sangat ironis. Negara yang dulunya memperjuangkan kemerdekaan dari simbol penjajahan, kini justru takut pada simbol kartun. Negara yang seharusnya dewasa justru bersikap kekanak-kanakan dan tak masuk akal.
Alih-alih merayakan 80 tahun kemerdekaan dengan refleksi dan pembenahan, negara malah menghabiskan energi untuk mengatur simbol. Padahal rakyat sedang menjerit soal harga bahan pokok, pengangguran, krisis iklim, dan berbagai isu nyata lainnya. Tapi yang jadi prioritas? Tengkorak tersenyum di atas kain hitam.
Mungkin ini adalah momen perenungan, bahwa setelah 80 tahun merdeka, kita harus bertanya ulang: merdeka dari apa? Apakah kita dijajah negara sendiri? Kalau menyuarakan keresahan dengan cara damai saja dianggap berbahaya, kalau simbol imajinasi dianggap ancaman, maka sebetulnya siapa yang sedang takut?
Bisa jadi, bendera One Piece terlalu cocok untuk Indonesia. Bukan karena kita bajak laut, tapi karena kita hidup dalam sistem yang kadang lebih menyeramkan dari dunia fiksi. Dan tengkorak tersenyum itu justru membuat kita semua teringat: mungkin sudah waktunya tertawa pahit, lalu bangkit.







