Home OPINI Antara Luka Hati dan Hak Hidup: Menggugat Pembenaran di Balik Tragedi

Antara Luka Hati dan Hak Hidup: Menggugat Pembenaran di Balik Tragedi

25
0

Nama: Haura Hafidzah
Jurusan: Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Wartawan LPM Qalamun

Kasus kekerasan yang menimpa seorang perempuan, yang kini viral akibat tindakan brutal mantan pasangannya dengan motif sakit hati, telah memicu perdebatan panas di ruang publik. Narasi yang berkembang sering kali terbelah: satu sisi mengecam kekerasan, sementara sisi lain mulai mengangkat isu “pacar baru” atau “pengkhianatan” sebagai alasan yang seolah-olah dapat dimaklumi di balik tindakan gelap mata pelaku.

Namun, kita harus jernih dalam menempatkan kemanusiaan di atas segalanya. Jika benar terdapat isu orang ketiga atau ketidakjujuran dalam hubungan, hal itu merupakan persoalan moral dan komitmen yang seharusnya diselesaikan secara dewasa: melepaskan dan pergi dengan martabat. Menggunakan alasan “diselingkuhi” atau “ditinggalkan demi orang lain” sebagai pembenaran untuk melakukan pembacokan merupakan lompatan logika yang sangat berbahaya. Sejak kapan luka perasaan memberi seseorang hak untuk menghancurkan fisik orang lain?

Peristiwa ini mengungkap adanya ego yang rapuh yang menyamar sebagai cinta. Cinta yang sehat tidak akan pernah berubah menjadi belati hanya karena tidak lagi memiliki tempat di hati seseorang. Ketika seseorang merasa berhak menghukum mantan pasangannya secara fisik karena merasa dikhianati, sesungguhnya ia tidak sedang mencintai; ia sedang mempraktikkan rasa kepemilikan yang berlebihan (objektifikasi), yakni memandang pasangan sebagai milik yang, jika tidak dapat dimiliki, harus dirusak.

Kita harus berhenti melakukan victim blaming atau menyalahkan korban dengan dalih kesalahan dalam hubungan. Pengkhianatan memang menyakitkan, tetapi pembacokan adalah kejahatan murni yang tidak memiliki tempat dalam hukum maupun norma kemanusiaan. Rasa sakit hati, betapapun hebatnya, tidak pernah menjadi lisensi atau pembenaran untuk merampas hak hidup seseorang.

Pada akhirnya, tragedi ini merupakan alarm keras bagi kita semua. Penolakan atau pengkhianatan adalah bagian pahit dari perjalanan hidup yang harus dihadapi dengan ketegaran mental, bukan dengan senjata tajam. Kemanusiaan kita sedang diuji untuk tetap berdiri pada prinsip bahwa nyawa manusia jauh lebih berharga daripada ego yang terluka karena urusan asmara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here