Home CERPEN Ayah di Kursi Kosong

Ayah di Kursi Kosong

69
0

Oleh: Syarifatul Awliyah Sahupala
Wartawan LPM Qalamun

Setiap sore, Raka selalu duduk di ruang tamu, tepat di depan kursi kayu tua yang tak pernah lagi terisi. Kursi itu dulu milik ayahnya. Tempat ayah biasa melepas lelah sepulang kerja, sambil bertanya hal-hal sederhana seperti, *“Hari ini sekolah bagaimana?”*

Kini, pertanyaan itu tak pernah terdengar lagi.

Sejak ayah pergi, rumah terasa lebih sempit meski dindingnya tak berubah. Suara tawa yang dulu mengisi malam berganti dengan isak tangis ibu yang berusaha disembunyikan. Raka sering pura-pura tidur ketika mendengar ibu menangis. Ia belum cukup besar untuk mengerti semuanya, tapi cukup dewasa untuk merasakan kehilangan.

Di sekolah, Raka menjadi lebih pendiam. Saat teman-temannya bercerita tentang ayah mereka yang mengantar ke lapangan atau membantu mengerjakan PR, Raka hanya menunduk. Ia tak iri, hanya lelah menjelaskan bahwa ayahnya “sedang tidak di rumah.” Kalimat itu ia ulangi berkali-kali, sampai akhirnya terdengar kosong bahkan di telinganya sendiri.

Ibu kini menjadi segalanya. I

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here