Oleh: Andi Syarifah Gilda
Wartawan Magang
Bukan paras jelita yang memenuhi kalbu,
Bukan pula janji manis di bawah sinar rembulan palsu.
Cintaku berlabuh pada dinding yang membisu,
Di sanalah rindu menemukan pelabuhan terakhirnya pilu.
AlFatah, rumah kedua yang sunyi.
Setiap sudutnya menyimpan kisah tak terperi.
Derap langkah santri di subuh hari,
Adalah melodi terindah yang menghiasi hati.
Bukan bantal empuk yang kurindukan setiap malam,
Tapi tikar lusuh dan suara ngaji yang mendalam.
Di bawah temaram lampu badai yang suram.
Ilmu mengalir, menembus jiwa yang kelam.
Kantin, sederhana dengan menu yang sama,
Menjadi saksi tawa dan air mata bersama.
Ujian mendera, rindu keluarga mendera,
Namun di sini, ukhuwah terjalin, bak sutra.
Cintaku adalah kamar sempit berisi puluhan nyawa
Di mana doa bersama terasa begitu nyata.
Malam-malam qiyam, sujud penuh harap,
Mencari cinta-Nya dalam kebersamaan yang mantap.







