Home CERPEN Saccharia: Legenda Butiran Emas

Saccharia: Legenda Butiran Emas

15
0

Nama: Andhika Indra Jaya
Jurusan: Informatika
Wartawan LPM Qalamun

Di bawah retakan lantai sebuah rumah tua, berdirilah koloni semut hitam yang sibuk seperti kota kecil. Lorong-lorong tanah dipenuhi barisan pekerja. Ada yang membawa remah roti, ada yang menjaga telur, ada pula yang berpatroli di terowongan.

Di antara mereka, ada satu semut muda yang selalu penasaran pada dunia luar. Namanya Raka.

Suatu malam, saat gudang makanan hampir kosong, semut tua penjaga gudang memanggil beberapa semut muda.

“Dengarkan baik-baik,” katanya dengan suara pelan.

“Ada makanan legenda yang pernah menyelamatkan koloni kita di masa lalu.”

Raka mengangkat antenanya.

“Namanya Saccharia.”

Para semut saling berbisik.

“Saccharia?” tanya Raka.

Semut tua itu mengangguk.

“Saccharia… legenda butiran emas. Makanan manusia yang berkilau seperti kristal dan rasanya lebih manis daripada embun bunga.”

Ia menunjuk ke arah atas.

“Tempatnya… di dapur manusia.”

Sejak saat itu, satu pikiran memenuhi kepala Raka: ia harus menemukan Saccharia.

Keesokan harinya, Raka keluar dari markas bersama beberapa semut lain. Namun mereka tidak sendirian. Di antara akar rumput taman berdiri sekelompok semut merah yang dipimpin oleh Sera.

“Kalian juga mendengar legenda itu?” kata Sera.

Raka mengangguk.
“Kami mencarinya.”

Biasanya dua koloni ini saling bermusuhan. Namun sebelum pertarungan terjadi, tanah tiba-tiba bergetar. Seekor kumbang badak berjalan melewati mereka seperti mesin raksasa. Para semut langsung menyingkir.

Sera menghela napas.
“Kalau kita bertarung sekarang, kita semua hanya akan jadi debu.”

Raka setuju.

Untuk sementara, dua koloni itu memutuskan berjalan bersama demi satu tujuan: menemukan Saccharia.

Perjalanan membawa mereka ke batang kayu tua di pelataran. Di dalamnya hidup sebuah kerajaan yang jarang terlihat: rayap. Lorong-lorong mereka seperti labirin tanah.

Pemimpinnya, Ratu Rayap Arkhila, menatap para semut dengan tenang.

“Kalian mencari gula manusia,” katanya.

Raka terkejut.
“Kau tahu?”

Arkhila tersenyum kecil.
“Rayap hidup dari kayu rumah manusia. Kami tahu hampir semua rahasia rumah.”

Ia melanjutkan, “Menuju dapur, kalian harus melewati wilayah pelataran yang dijaga laba-laba. Banyak yang tidak kembali.”

Namun sang ratu memberi mereka peta sederhana dari lorong tanah.

“Sebagai gantinya,” katanya, “jika kalian menemukan gula itu, kirim sedikit ke kota rayap.”

Kesepakatan pun dibuat.

Di taman bunga, rombongan semut bertemu makhluk yang jauh lebih cepat dari mereka: seekor lebah pekerja bernama Mira. Ia melayang di udara seperti helikopter kecil.

“Kalian berjalan kaki ke dapur?” Mira tertawa. “Itu jauh sekali.”

Raka menjelaskan tentang legenda gula itu.

Lebah itu berpikir sejenak.
“Baiklah. Aku akan membantu mengintai dari udara.”

Sejak saat itu, Mira menjadi mata langit bagi rombongan kecil tersebut. Dari atas, ia dapat melihat bahaya lebih cepat daripada siapa pun.

Saat mereka tiba di pelataran rumah, Mira tiba-tiba menukik.

“Berhenti!”

Di depan mereka terbentang jaring laba-laba yang luas.

Dari sudut jaring, seekor laba-laba bernama Velkra menggerakkan kakinya perlahan.

“Banyak tamu hari ini,” katanya dingin.

Semut merah langsung bersiap bertempur. Namun Raka memiliki sebuah ide. Mira terbang cepat memancing laba-laba itu menjauh, sementara para semut memotong beberapa benang jaring.

Angin halaman menggoyangkan jaring tersebut hingga kacau. Velkra sibuk memperbaiki jaringnya. Kesempatan itu cukup bagi rombongan kecil untuk melarikan diri.

Akhirnya mereka sampai di dapur manusia. Lantai dapur terasa luas seperti gurun.

Lalu mereka melihat sesuatu di dekat meja makan. Butiran putih berkilau berserakan seperti kristal kecil.

Raka mendekat perlahan.

“Sera… apakah ini…?”

Sera mencicipinya sedikit. Antena mereka langsung bergetar. Rasanya manis. Energi mengalir ke seluruh tubuh.

Legenda itu nyata.

Itulah Saccharia.

Namun tiba-tiba muncul makhluk lain: kecoak, lalat, bahkan koloni semut lain. Semua ingin mengambil butiran emas itu.

Dalam kekacauan itu, Raka menyadari sesuatu. Gunungan Saccharia terlalu besar untuk satu koloni saja.

Ia menatap Sera.

“Kita tidak harus saling berebut.”

Sera melihat sekeliling: semut hitam, semut merah, lebah yang membantu dari udara, dan rayap yang memberi jalan.

Akhirnya mereka membawa pulang butiran emas itu bersama-sama.

Sedikit untuk koloni semut.
Sedikit untuk kota rayap.

Kabar tentang legenda itu pun menyebar ke seluruh taman.

Malam hari di markas semut, Raka melihat keluar dari retakan lantai. Kini ia mengetahui satu hal: Saccharia mungkin hanya sebuah legenda, tetapi dunia di luar sana jauh lebih luas daripada dapur manusia.

Masih ada halaman belakang, selokan, atap rumah, dan tempat-tempat lain yang mungkin menyimpan legenda baru.

Sera berdiri di sampingnya.

“Petualangan berikutnya?” tanyanya.

Raka tersenyum.

“Legenda tidak pernah hanya satu.”

Dan kisah Saccharia: Legenda Butiran Emas baru saja dimulai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here