PALU, LPMQALAMUN.com – Sejumlah mahasiswa kontingen UIN Datokarama Palu yang mengikuti Pekan Olahraga, Riset, dan Ornamen Seni Indonesia Timur (POROS INTIM) IV 2026 menyampaikan berbagai evaluasi terhadap dukungan kampus. Sorotan utama mencakup pendampingan selama kompetisi hingga belum adanya kejelasan apresiasi bagi peserta maupun peraih prestasi.
Salah seorang peserta berinisial “A” mengaku bangga dapat mewakili kampus dalam ajang tersebut.
“Selama mengikuti kegiatan ini, saya mendapat banyak pengalaman baru, mengenal mahasiswa dari UIN, IAIN, dan STAIN se-Indonesia Timur, serta belajar banyak hal, khususnya di cabang futsal,” ujarnya saat diwawancarai kru LPM Qalamun, Kamis (23/7/2026).
Ia menilai pendamping telah berupaya membantu peserta saat menghadapi kendala di lapangan. Namun, menurutnya, perhatian kampus masih perlu ditingkatkan.
“Perhatian dari kampus sudah ada, tetapi mungkin bisa lebih maksimal agar mahasiswa merasa lebih dihargai dan termotivasi,” tuturnya.
Terkait penghargaan, ia mengungkapkan hingga kini belum ada informasi resmi mengenai bentuk apresiasi bagi peserta.
Hal senada disampaikan seorang peserta berinisial “N”, ia mengaku bangga dapat meraih medali emas dalam ajang tersebut.
“Banyak pengalaman dan relasi baru yang kami dapatkan. Ini juga meningkatkan sportivitas,” ujarnya.
Menurutnya, prestasi yang diraih merupakan bentuk dedikasi kepada keluarga, pelatih, dan kampus. Meski demikian, ia mengaku masih menunggu kejelasan terkait apresiasi bagi peserta, khususnya peraih medali.
Ia berharap kampus dapat meningkatkan pembinaan atlet melalui dukungan fasilitas, pelatihan, serta pemberian apresiasi yang layak bagi mahasiswa berprestasi.
Berbeda dengan narasumber sebelumnya, peserta berinisial “B” menilai kampus seharusnya memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang telah mengharumkan nama institusi.
Selain itu, ia mengungkapkan belum adanya kejelasan terkait realisasi apresiasi yang dijanjikan kampus, termasuk pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT).
“Sejak kegiatan berakhir, belum ada penyampaian resmi mengenai penghargaan bagi peserta yang memenangkan lomba, sehingga tidak ada kepastian,” ujarnya.
Peserta lainnya berinisial “F”, menyampaikan hal serupa. Ia menyoroti minimnya pendampingan, khususnya dalam penyediaan transportasi.
“Salah satu contohnya, transportasi peserta tidak disiapkan sehingga beberapa delegasi terlambat menghadiri pertemuan penting saat lomba,” katanya.
Ia menilai perhatian kampus terhadap mahasiswa yang mengikuti kompetisi masih belum maksimal. Hingga kini, belum ada kejelasan terkait realisasi penghargaan yang dijanjikan kepada delegasi peraih juara.
Para mahasiswa berharap kampus segera memberikan kejelasan terkait apresiasi sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka dalam mengharumkan nama UIN Datokarama Palu sekaligus meningkatkan citra institusi.
Wartawan: Papirus, Readers, Belle







