Home CERPEN Era Baru

Era Baru

40
0

Oleh : Sitti Nurhalisa Humairah
Wartawan Magang

Dini hari menjelang pagi, matahari baru saja mengintip malu-malu terbit ketika alarm di kamar kos berdenting keras. Jaki terlonjak dari kasur langsung tertuju melihat jam menujukkan pukul 05.30 WITA. Jaki dengan panik langsung membangunkan sahabatnya Rido. hari ini adalah hari pertama OSPEK dan kegiatan dijadwalkan ospek mulai pukul 06.00 WITA.

“Rido bangunn, kiitaa telaat!!” teriak Jaki sambil menggucang sahabatnya.

Tanpa banyak bicara mereka bergegas dan berlari menuju kampus. Nafas mereka masih terengah saat berdiri di depan kampus dan melihat gedung baru tempat pendidikan mereka yang menjulang tinggi ke atas dinding kacanya berkilau seolah seolah berkata “Welcome to the university”. Ia dan Rido buru-buru ikut berbaris di lapangan bersama mahasiswa baru lainnnya. Mereka dikumpulkan dilapangan untuk pembagian kelompok. Keduanya dipisahkan, Rido berada di kelompok 17 sedangkan Jaki bergabung dikelompok 25. Meski hanya terpisah barisan, jaki merasa hari itu tiba-tiba sepi.

Saat memasuki auditorium Jaki tertegun. Lampu besar. Panggug luas, layar LED semua terasa asing namun sangat memukau. Ia berkata dalam hati “di kampungku yang seperti ini tidak ada.”
rektor mulai memberi sambutan suaranya tegas namun hangat, dan satu kalimat yang diam-diam menampar dan sangat menarik di telinganya Jaki saat rektor mengatakan.

“Tidak ada kata terlambat untuk belajar, kita semua sama yang membedakan adalah garis kita mulai, jika kita start duluan kita lebih dapat ilmunya duluan, tetapi jika kita masih mau berleha-leha ya pasti ilmunya berleha-leha juga datang,” ucapan rektor.

Jaki tidak tahu bahwa kalimat itu akan menjadi kunci perjalanannya
Dini hari ayam sudah berkokok Jaki dan Rido pun juga sudah siap untuk berangkat ke kampus agar tidak terlambat. Mereka kembali dikumpulkan di auditorium kampus.

Di hari kedua OSPEK ini adalah momentum penampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Organisasi Kegiatan Mahasiswa (OKM) kampus. Para mahasiswa baru bertepuk tangan, tertawa, bahkan ikut bernyanyi.

Hari ketiga, giliran sesi pertanyaan berhadiah. Hari yang sangat seru, maba berebut mangacungkan tangan, dan ruangan penuh semangat kompetitif. Pertanyaan pertama dimulai, perasaan Jaki mulai tidak beraturan dia mulai gugup dan jiwa ingin tampil seperti dulu ketika menjadi ketua Organisasi Intra Sekolah (OSIS). Tapi setiap kali pertanyaan diberikan, kepalanya terasa kosong. Satu pun pertanyaan tak bisa Ia jawab. Padahal pertanyaan yang diberikan adalah pertanyaan pengetahuan umum dan beberapa mata pelajaran sekolah.

Sementara Rido yang tidak pernah menjadi siapa-siapa di sekolah dulu berhasil menjawab beberapa pertanyaan dengan percaya diri. Melihat itu, sebuah rasa yang lama tak Ia kenal muncul : malu.
Malu kepada maba lain.
Malu kepada sahabatnya.
Malu pada dirinya sendiri.

Ia sadar, ia terlalu merasa dirinya sudah cukup pintar. Apalagi setelah melihat Rido datang padanya sambil membawa hadiahnya.

Ospek telah berakhir, sebelum pulang Rido mengajak Jaki untuk melihat stand-stand UKM.

“Jaki inikan hari terakhir OSPEK. Lihat-lihat stand UKM dulu yok,” ajak Rido.

“Enggak ah,” jawab Jaki.

“Ayolah jak kapan lagi! masa ketua OSIS ngak mau masuk UKM sih,” bujuk Rido.

“Ya udah ayo,” jawab jaki dengan perasaan yang masih malu dengan dirinya sendiri.

Waktu pun sudah menjelang magrib, malam hampir tiba mereka pun segera pulang. Namun hingga malam hari, suasana hati Jaki tak berubah. Rido mengajak jaki untuk nongkrong di kafe karna melihat jaki yang tidak seperti biasanya, Ia tampak diam raut mukanya memperlihatkan sepertinya ia dalam kesulitan.

Mereka sampai di kafe, setelah memesan Rido membuka percakapan.

“Jak jadi rencana bagusnya kita masuk UKM mana nih??,” tanya Rido.

Sementara jaki hanya diam temenung menatap hpnya dan tidak mengubris pertanyaan dari sahabatnya itu.

Keheningan mereka berdua dipotong dengan kedatangan barista yang mengantar pesanan americano dan gula aren beserta kentang goreng.

“Makasih kak,” kata rido kepada barista.

Sementara baristanya terseyum dan menundukan kepala lalu pergi.
Rido mulai membuka cerita lagi Ia berpikir minuman sudah terjamu mungkin lebih enak ceritanya.

“Jaki dari tadi kamu diam aja, ada apa? cerita aja kita temenan udah lamakan,” tanya Rido.

Jaki menarik napas panjang. wajahnya sulit dibaca.
“Do… aku malu.aku merasa paling pintar. Tapi pas OSPEK satu pun pertanyaan aku ngak bisa jawab. Kamu bisa, maba lain bisa, dan aku ketua OSIS dulu tidak bisa apa-apa. Ternyata kesombonganku, egoku sangat parah Do,” sambung jaki.

Rido terdiam, lalu menunggu Jaki melanjutkan.

(Sekilas balik ke masa sekolah Jaki)

Dulu Jaki adalah seorang Siswa yang aktif dalam organisani disekolahny, ia menjabat sebagai ketua OSIS yang dikenali dan wajahnya yang disukai banyak orang. Ia menari di tengah kesibukan rapat, proposal, dan kegiatan Sekolah. Namun buku-buku pelajaran bak bulan jauh di atas awan.

Ia tak pernah benar-benar mengulang pelajaran di rumah. Halaman-halaman buku yang menunggu untuk dibaca, rumus rumus yang merindukannya tak kunjung disentuhnya. Ia menunda menunda lagi sampai malam sebelum ujian menjadi saksi paling kejam.

Nilainya bagus dan karena guru menghargai kerja kerasnya dalam organisasi yang selalu menyukseskan acara kegiatan di sekolah bukan kemampuan akademiknya. Dan itu membuatnya merasa hebat dan merasa cukup.

(Lanjut cerita)

“Do, aku menyesal, aku cuma kejar nilai, bukan ilmunya. Sekarang aku rasa semua itu balik ke aku sebagai penyesalan,” kata Jaki lirih.
Rasa penyesalan tertumpuk di dalam dirinya. Rido menepuk pelan pundak Jaki.

Rido pun menjawab dengan nada yang sedang “Jaki semua orang di dunia ini berawal dari tidak tahu dan kalau kamu sekarang itu sadar. Itu langkah awal yang bagus. Mulai sekarang Ayo kita belajar sama-sama, semua ada prosesnya tidak langsug bisa. Kamu udah unggul soal organisasi, aku tidak. Kita beda startnya kayak kata Rektor,”.

Jaki menganguk pelan
“Kalau begitu saya fokus belajar saja. Tidak usah ikut organisasi lagi,” kata Jaki.

Rido tersenyum menggeleng pelan.
“Jangan gitu. Kuliah itu tempat kita bangun relasi. softskill juga penting. Cuma… jangan sampai organisasi bikin kamu lupa tujuan utamanya yaitu belajar,” sambung Rido.

Jaki terdiam, merenung dan berpikir sejenak. Lalu Ia mengakatkan kepalanya

“Benar. Aku nggak boleh jatuh di tempat yang sama. Aku harus buat era baru dalam hidupku,”jawab Jaki dengan motivasi baru.
Jaki menatap kopinya, menarik napas.

“Aku tidak terlambat. Masa depanku baru saja lahir,” kata Jaki, pelan namun pasti.

Malam itu ditemani secangkir kopi dan sepiring kentang goreng membuat kisah, motivasi, dan era baru di hidup Jaki.

Ia berkomitmen akan merubah dirinya menjadi lebih baik lagi dan lebih rendah hati kepada semua orang. OSPEK bukan lagi kegiatan kampus tetapi titik balik yang membentuk jalan hidupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here