Oleh : Sitti Nurhalisa Humairah
Wartawan Magang
Di era digital semua serba cepat, manusia sekarang hidup di lingkungan yang memberikan segala sesuatu dengan instan mulai dari hiburan, informasi, jawaban, dan pertanyaan. Teknologi yang seharus diciptakan untuk mendorong gaya berfikir semakin maju dan menjadi alat bantu untuk manusia, bukan menjelma menjadi alat yang membuat sebagian manuasia malas berpikir. Banyak mahasiswa menggunakan AI bukan sebagai alat bantu tetapi penentu jawaban.
Perkembangan zaman yang semakin maju menciptakan inovasi teknologi baru, Afrtificial Intelelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Seharusnya diciptakan untuk membantu dan memudahkan pekerjaan manusia, bukan untuk menggantikan proses berpikir kritis. Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidiupan sehari-hari, terutama di lingkungan akademik. Ketika dosen bertanya sebagian dari mahasiswa memilih membuka AI untuk mencari jawaban cepat cepat tetapi ironisnya tanpa menganalisis, apalagi memahami konteksnya. Saat presentasi di kelas, yang bertanya menggunakan AI dan yang presentasi menjawab pertanyaan menggukan AI. Proses diskusi yang seharusnya menalatih nalar atau pemikiran untuk mengeluarkan pendapat sendiri berubah menjadi pertukaran teks dari mesin ke mesin melalui mulut manusia.
Dilansir dari kompas.com, ketergantungan yang berlebihan pada teknologi terutama AI dapat mengurangi pengawasan manusia yang pada akhirnya akan meningkatkan risiko keselamatan dan kesehatan kerja serta memicu stres akibat tekanan mental algoritma. Jika dalam dunia kerja saja ketergantungan teknologi menjadi dampak buruk, maka dalam dunia pendidikan ketergantungan teknologi bisa jauh lebih fatal, manusia akan kehilangan kemampuan belajar dan berpikir.
Dalam jurnal pendidikan, Jihan Alifa Firdaus, dkk., menyimpulkan bahwa AI menyebabkan ketergantungan kepada mahasiswa. Besarnya ketergantungan terhadap AI menyebabkan kemampuan analisis dan kreativitas mahasiswa berkurang yang seharusnya menjadi inti dalam pembelajaran.
Akibatnya muncul istilah “mahasiswa AI” yaitu mahasiswa yang serba instan, malam membaca, dan enggan berpikir kritis. Materi pembelajaran baru dicari sepuluh menit sebelum masuk kelas, tugas dikerjakan tanpa di pahami, dan argumen disusun tanpa berpikir. Kebiasaan yang sering terjadi ini bukan hanya menguragi kualitas pembelajaran, melemahkan kemampuan berpikir kritis, mengeluarkan pendapat, dan memahami konsep secara mendalam.
Jika fenomena ini dibiarkan, masa depan generasi akan terancam semua akan menjadi budak teknologi. Teknologi akan semakin maju, sementara SDM kita semakin tertinggal karena terlalu lama dimanjakaan oleh jawaban instan. Dampak paling buruknya penganguran akan meningkat, kriminalitas ikut naik, dan generasi kehilangan daya juang karena terbiasa memilih jalan paling mudah. Ketika dunia kerja mulai mengandalkan robot dan otomasi, manusia yang terbiasa bergantung pada AI justru akan kalah.
Jika mahasiswa tidak mengembangkan keterampilannya selama proses pendidikan, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan tuntutan dunia profesional yang dinamis dan kompetitif. Kemajuan teknologi ini termasuk AI, seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti nalar. Kita tidak boleh membiarkan hal ini terus terjadi. Generasi muda perlu ditempa agar tidak hanya cerdas digital tetapi kuat secara intelektual. Jika tidak, kita hanya akan menyaksikan kemunduran yang merugikan diri sendiri dan bangsanya.







