Oleh: Ria Andani
Wartawan LPM Qalamun
Telah kulalui malam bertabur keluh,
Dengan dada berselimut peluh.
Segala luka menjadi guru, Mengajarku menari meski di bawah rintik pilu.
Tak kupinta nasib nan manis, Namun jiwa ini enggan menangis. Kujahit harap pada tiap goresan, Biar perih menjelma kekuatan.
Angin pun tahu aku belum reda, Namun ia tetap meniupkan cahaya. Sebab hidup bukan tentang siapa yang tinggal, Melainkan bagaimana langkah tetap berjalan.
Biarlah kenangan larut dalam debu, Sebab aku adalah gadis yang baru. Tak lagi terikat masa nan sendu, Kini kubina hari dengan cahaya yang kutemu.
Jiwa ini telah kehabisan pelabuhan
Telah mengetuk pintu-pintu yang hanya menjawab dengan diam
Namun, tetap saja dia berdiri
Meski kakinya gemetar, meski hatinya nyaris rubuh.
Bukan karena kuat, bukan pula karena tak kenal menyerah
Tapi karena jiwa ini tahu,
Bahwa kadang bertahan bukan pilihan
Melainkan satu-satunya cara untuk tetap hidup di tengah dunia yang tak selalu ramah







