Oleh: Srivahyualda Ladjamu
Wartawan LPM Qalamun
Di sebuah rumah sederhana seorang anak yang sedang bercerita menggunakan pena di sebuah buku kecil tempatnya menuangkan segala apa yang ia lalui hari ini, ia adalah Keyna si gadis tunawicara.
Ia tak punya teman untuk sekedar bercerita tentang hari ini, esok, dan nanti, sampai pada saat ia menemukan seseorang yang bisa menjadi pendengar yang baik dengan segala keterbatasannya.
Di pagi hari yang tak secerah biasanya, Keyna yang sedang bersiap untuk ke sekolah tanpa berpamitan pada orang rumah, dikarenakan kedua orangtuanya yang sibuk bekerja, ibunya hanya menyiapkan sarapan lalu pergi. Sesampainya di kelas ia duduk di kursi tunggal paling belakang tanpa menyapa siswa-siswi yang ada di sana.
Jam istirahat pun tiba, Keyna berlalu pergi dari kelas menuju bawah pohon yang ada di samping kelasnya. Tiba-tiba seorang siswa menghampirinya lalu berkata, “Eh lo yang kemaren hampir gue tabrak kan?” Kayna hanya bisa terpaku dan berusaha mengingat kejadian kemarin.
—
Flashback on
Suasana sore yang tenang, Kayna yang baru saja keluar dari gerbang sekolah menaiki sepeda kesayangannya dengan menikmati angin sore. Tiba-tiba matanya terfokus pada seekor hewan berbulu berada di tengah jalan, ia pun tergerak hatinya untuk menolong hewan lucu itu. Ia turun dari sepeda dan berusaha menyelamatkan kucing tersebut. Saat kucing itu sudah ada di gendongnya, tanpa ia duga sebuah kuda besi (sepeda motor) nyaris menabrak Kayna dengan hewan berbulu yang ada di gendongannya. Untungnya pengendara tersebut langsung menghindar dan menabrak trotoar.
Kayna yang melihat kejadian tersebut hanya bisa terpaku karena kaget akan apa yang ia lihat. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung menghampiri kami. Salah satu warga bertanya kepada Kayna, “Kamu ngga papa kan?” Kayna dengan gerakan tangan berusaha menjawab menggunakan bahasa isyarat dan mengangguk di saat yang bersamaan. Yang lainnya membantu pengendara itu. Seorang ibu-ibu bertanya kepada si pengendara kuda besi, “Mas kami antar ke rumah sakit yaa?” Si pengendara menjawab, “Ngga papa Bu, hanya lecet sedikit kok nanti juga sembuh.” Ia menjawab sambil melihat ke arah Kayna. Kayna yang ditatap seperti itu hanya bisa menunduk.
Lalu warga yang bertanya tadi kepadanya bersuara lagi, “Dek saya antar pulang ya?” Lalu Kayna langsung menulis sesuatu di buku kecilnya berupa jawaban atas pertanyaan dari si warga tersebut, “Gak papa Bu saya pulang sendiri ajah.” Lalu ia berpamitan kepada warga tersebut. Ia pun pergi meninggalkan tempat itu dengan rasa takut, dan bersalah di saat yang bersamaan.
Flashback off
—
Kayna berusaha menjaga ekspresinya agar terlihat biasa saja saat dihampiri oleh pengendara yang hampir menabraknya kemarin.
Kayna mengambil diarynya lalu menuliskan sesuatu di sana, “Kamu nggak papa kan?” Setelah menulisnya ia memperlihatkan kepada siswa tersebut.
Siswa itu menjawab, “Seharusnya aku yang tanya, kamu nggak papa? Maaf yaa kemaren rem aku blong, untungnya aku nggak ngebut.”
Lalu Kayna menjawab dengan sebuah tulisan, “Aku nggak papa kok, maaf yaa aku kurang hati-hati.”
“It’okayy, yang penting kita berdua nggak papa,” siswa itu menjawab dengan enteng padahal sekarang kaki sebelah kirinya sedang diperban.
“Ehh nama lo siapa?” tanya siswa tersebut. Kayna menulis namanya di kertas lalu memberikannya kepada siswa itu, “Nama aku Kayna, kalau kamu?”
Ia pun menjawab, “Nama aku Raja, salam kenal yaa.”
Itulah awal pertemuan mereka yang sangat tragis. Mulai saat itulah mereka berteman, dan mulai sesekali bertemu di tempat itu. Raja yang mulai mempelajari bahasa isyarat agar Raja bisa mengerti apa yang Kayna katakan. Mereka sering mengerjakan tugas bersama di kafe, perpus, dan banyak tempat mereka temui. Sekarang Kayna tidak perlu meluapkan semua amarah, sedih, dan kecewa pada buku diarynya, karena sekarang ia sudah punya diary yang bisa ia ajak berkomunikasi walau tanpa suara tapi terasa menyenangkan.
—
Menyambut pagi seperti biasa, Kayna bangun membuka handphone membalas pesan dari Raja yang ingin berangkat bersama. Kayna yang sudah siap dengan seragam putih abu-abu yang sudah menempel di badannya. Terdengar dari luar pagar suara deru motor yang Kayna kenali. Ya, dia adalah Raja yang sudah ada di depan. Dengan cepat Kayna menghampiri Raja.
Raja membuka suara sambil menggerakan tangannya, “Kay sarapan dulu yukk!!” Kayna menjawab dengan mengangguk sambil tersenyum. Sesampainya di warung bubur ayam mereka turun dari motor dan langsung memesan, “Mas! Bubur ayamnya 2,” Raja bersuara dengan sedikit beriak.
“Ohiyah sebentar yaa,” kata si penjual bubur ayam.
Setelah menunggu 15 menit akhirnya pesanan mereka datang. “Makasih Mas,” Raja bersuara dengan nada sopan. Kayna hanya bisa tersenyum ramah kepada penjual itu. Akhirnya mereka menikmati makanan tersebut. Raja membuka suara lagi, “Kay aku punya sesuatu buat kamu.” Kayna yang mendengar itu hanya bisa menyerngitkan dahinya lalu ia menggerakan tangannya bertanya dengan bahasa isyarat, “Sesuatu?”
“Iya, tapi nanti besok aja baru aku kasih ke kamu,” Raja menjawab sambil menatap Kayna. Setelah itu mereka melanjutkan sarapan mereka yang sempat tertunda walaupun Kayna penuh dengan tanda tanya tentang sesuatu yang Raja sebutkan tadi.
Setelah makan mereka bergegas pergi ke sekolah karena sebentar lagi bel akan berbunyi. Raja melaju dengan kecepatan yang sedang. Tetapi tanpa mereka duga sebuah truk dari arah kanan melaju dengan kecepatan tinggi dan BRRUAKKKKK!
Mereka terhempas ke jalan raya. Raja dan Kayna penuh dengan darah, keadaan mereka sama-sama mengenaskan.
—
Dalam hening Kayna mulai membuka matanya. Ia menengadah ke sekeliling ruangan. Di sana ada kedua orang tuanya, tapi bukan mereka yang ia harapkan saat ini ada di sampingnya. Orang tuanya menyadari bahwa Kayna sudah sadar.
“Alhamdulillah, Nak, akhirnya kamu siuman,” ucap ibu Kayna dengan mata sembab.
Ayah Kayna hanya bisa memeluk istrinya sambil melihat ke arah Kayna. Ayah Kayna yang menyadari bahwa anaknya tengah mencari seseorang ia pun bersuara, “Nak kamu cari siapa? Raja?”
Kayna yang mendengar itu pun mengangguk berharap ayahnya memberi tahu di mana Raja sekarang.
“Nak, ayah harap kamu tetap kuat yaa.” Kayna bingung dengan penuturan ayahnya. Ayahnya dengan wajah terpaksa berkata, “Raja sudah meninggal 3 hari yang lalu saat kamu masih koma, Nak.”
Mendengar itu Kayna tidak percaya. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya. Hari itu juga Kayna meminta diantarkan ke tempat di mana Raja disemayamkan walaupun dalam keadaan belum sepenuhnya sembuh.
Sesampainya di sana ia pun kembali menangis sejadi-jadinya. Ia telah kehilangan satu-satunya sahabat. Ia kehilangan diarynya. Dalam lirih ia berkata dalam hati, “Kamu bilang mau kasih aku sesuatu, ini sesuatu yang kamu maksud?”







