PALU, LPMQALAMUN.com — Aliansi Buruh Rakyat Berkuasa (Burasa) kembali menggelar aksi demonstrasi jilid II pada Selasa (12/5/2026) di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tengah, Jalan Sam Ratulangi, Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Aksi tersebut melibatkan serikat buruh, tenaga kerja, dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Palu. Demonstrasi kembali dilakukan karena tuntutan pada aksi sebelumnya dinilai belum mendapat tanggapan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Koordinator Lapangan aksi, Fauzul Azmi, mengatakan demonstrasi itu digelar lantaran sejumlah tuntutan yang disampaikan pada aksi pertama belum ditindaklanjuti. Tuntutan tersebut mencakup persoalan kesejahteraan buruh hingga mahasiswa magang yang disebut tidak menerima upah.
“Tujuan kami menggelar aksi ini karena tuntutan-tuntutan yang kami bawa pada aksi pertama belum direspons oleh gubernur. Selain itu, gubernur juga tidak hadir di titik aksi dan tidak menemui massa saat demonstrasi pertama,” ujar Fauzul.
Ia menilai masih terdapat buruh dan tenaga kerja di Sulawesi Tengah yang belum memperoleh upah layak. Menurutnya, mahasiswa yang menjalani program magang atau Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di sejumlah instansi juga tidak menerima upah, sehingga dianggap sebagai bentuk eksploitasi tenaga kerja.
“Kami melihat masih ada buruh dan tenaga kerja di Sulawesi Tengah yang tidak mendapatkan upah layak. Bahkan mahasiswa yang menjalani magang atau MBKM di beberapa instansi tidak diberikan upah. Itu kami anggap sebagai bentuk eksploitasi,” katanya.
Fauzul menambahkan, pihak Burasa telah melakukan audiensi dengan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah. Dalam waktu dekat, mereka juga dijadwalkan menggelar pertemuan lanjutan bersama gubernur untuk membahas tuntutan yang disampaikan.
Ia berharap aksi tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menghentikan praktik eksploitasi terhadap buruh dan tenaga kerja di Sulawesi Tengah.
“Harapan terbesar kami adalah tidak ada lagi eksploitasi terhadap buruh dan tenaga kerja, karena hal itu membuat mereka tidak mendapatkan upah yang layak dan mengalami kesulitan finansial,” tutupnya.
Wartawan: Papirus, Farabi







