Oleh: Moh. Khaidir
Wartawan LPM Qalamun
Namaku Laut, seperti hamparan yang menelanku.
Di dasar paling kelam, di mana cahaya enggan menyapa,
Aku berbisik lewat buih ombak yang kau lihat di tepian.
Ini bukan nyanyian camar, tapi elegi kami yang tak pernah usai.
Dulu jemari ini lincah di atas mesin tik, bukan terikat dingin.
Mengetik kata demi kata, merajut asa untuk negeri.
Kami berbagi kretek dan tawa di antara diskusi tajam,
Percaya bahwa suara kami mampu mengguncang sunyi.
Lalu malam datang bersama derap sepatu lars.
Mata ditutup, mulut dibungkam, tubuh diseret ke ruang tak bernama.
Pertanyaan hanyalah gema dari pukulan yang diterima,
Dan nama kawan-kawan menjadi doa sekaligus siksa.
Mereka melempar tubuhku ke biru yang beku,
Dengan pemberat di kaki, agar ceritaku turut karam.
Agar aku menjadi rahasia yang terendap bersama pasir,
Hilang—tanpa nisan, tanpa jejak, tanpa makam.
Tapi mereka salah.
Laut tak pernah benar-benar diam.
Ia merekam setiap detik terakhir napasku,
Ia menyimpan suaraku dalam asin garam.
Di sebuah meja makan, sebuah kursi masih kosong.
Di hati seorang adik, rindu terus bergelombang.
Ibuku masih menanti di depan pintu setiap petang,
Berharap aku pulang, meski hanya bayang.
Maka jika kau berdiri menatap cakrawala,
Dengarlah baik-baik, di antara debur yang pilu.
Itu kami, yang tak pernah benar-benar tiada.
Kami adalah laut yang terus bercerita
Tentang kebenaran yang lama ditunggu.







