Home Kemitraan Lentera Diskursus Forum Paradigma Kopi Kritik Pendidikan Palu dengan Gagasan Freire

Lentera Diskursus Forum Paradigma Kopi Kritik Pendidikan Palu dengan Gagasan Freire

80
0

PALU, LPMQALAMUN.com – Lentera Diskursus Forum Paradigma Kopi menggelar forum diskusi bertajuk “Relevansi Pemikiran Paulo Freire sebagai Protes Pendidikan di Kota Palu”, bertempat di Perpustakaan Kota Palu, Kamis siang (02/10/2025).

Diskusi ini diinisiasi sebagai bentuk kritik terhadap praktik pendidikan di Kota Palu yang dinilai masih otoritarian, pasif, dan kurang membebaskan.

Ketua Panitia sekaligus pendiri forum, Wahyu Hidayat, menjelaskan bahwa pendekatan pendidikan dialogis dan partisipatif ala Paulo Freire dapat menjadi solusi untuk mengubah budaya kepatuhan pasif dalam dunia pendidikan.

“Pendidikan dialogis mendorong siswa dan mahasiswa untuk bertanya, berdiskusi, dan tidak hanya menerima. Dengan begitu, daya kritis mereka dapat berkembang,” ujarnya.

Diskusi menghadirkan empat narasumber dari kalangan aktivis mahasiswa dan komunitas literasi di Palu, yaitu:

Bung Ridwan, Sekretaris Jenderal DEMA UIN Datokarama Periode 2025.

Aroel Firmansyah, Kepala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan DPP L-Aksi.

Wahyu Hidayat, pendiri Lentera Diskursus Forum Paradigma Kopi.

Mohammad Dzikrullah, kader Mujahid PMII Rayon Forum Intellectus Komisariat Universitas Tadulako.

Kegiatan ini juga berkolaborasi dengan beberapa komunitas, di antaranya Paulore Regulus Neves Freire, PMII Rayon Forum Intellectus, Lembaga Aksi Muda Literasi Indonesia, serta Lentera Diskursus Forum Paradigma Kopi.

Menurut Wahyu, efektivitas forum dapat diukur dari sejauh mana diskusi ini menumbuhkan kesadaran kritis mahasiswa dan pemuda Palu bahwa pendidikan yang berjalan saat ini belum sepenuhnya sesuai dengan pemikiran Freire.

Ia menilai, tantangan penerapan pemikiran Freire di Kota Palu cukup besar, mulai dari sistem pendidikan yang masih hierarkis, budaya “bisu” akibat tradisi patuh dan sungkan mengkritik, hingga pandangan konservatif mayoritas yang menganggap gagasan Freire terlalu radikal.

“Untuk menanggulanginya, diperlukan dialog yang kritis namun tetap menghormati, pemanfaatan kearifan lokal seperti nilai musyawarah dan keberanian berpendapat, serta pendekatan aksi kultural melalui seni, budaya, dan literasi agar gagasan Freire lebih mudah diterima,” jelasnya.

Wahyu berharap forum ini dapat melahirkan mahasiswa dan pemuda Palu yang lebih peka, reflektif, dan berani bersuara terkait isu pendidikan.

“Saya juga berharap adanya penguatan jaringan. Artinya, semakin banyak kolaborasi antar komunitas dan aktivis di Palu untuk terus mengawal isu-isu sosial,” tambahnya.

Sebagai tindak lanjut, Wahyu menyampaikan bahwa forum serupa akan kembali digelar pada 8 Oktober 2025, dengan melibatkan kolaborasi bersama L-Aksi, Lentera Sastra, dan Sanggar Seni Bahana.

Wartawan Magang: Socius, Belle, Boy, Moon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here