Oleh: Febrian Fahrezi
Wartawan LPM Qalamun
Kondisi kampus hari ini memperlihatkan adanya jurang yang cukup nyata antara idealisme mahasiswa dan realitas yang mereka hadapi. Kampus semestinya menjadi ruang tumbuhnya gagasan, tempat kebebasan berpendapat, sekaligus wadah untuk mengasah daya kritis. Namun dalam praktiknya, mahasiswa kerap terbentur pada tembok birokrasi, keterbatasan fasilitas, hingga kegiatan akademik yang lebih menekankan formalitas daripada kualitas.
Partisipasi mahasiswa dalam organisasi pun tak lepas dari tantangan. Banyak yang lebih sibuk memburu citra dan status, sementara substansi kegiatan—seperti advokasi, pengembangan minat-bakat, hingga kontribusi sosial—sering terabaikan. Akibatnya, kampus perlahan kehilangan ruh sejatinya sebagai laboratorium intelektual.
Lebih mengkhawatirkan lagi, semangat kritis mahasiswa kian meredup. Tak sedikit yang lebih fokus pada kuliah sebagai formalitas, berorientasi pada kelulusan cepat, ketimbang berproses menjadi insan akademis yang peduli pada problem sosial. Padahal, sejarah berulang kali menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam mendorong perubahan, baik di dalam kampus maupun di tengah masyarakat.
Situasi ini menuntut evaluasi serius. Pihak kampus perlu berani membuka ruang dialog yang sehat, menyediakan fasilitas yang memadai, serta menumbuhkan iklim akademik yang mendorong lahirnya kreativitas dan daya kritis. Sementara itu, mahasiswa perlu kembali merefleksikan perannya: bukan sekadar penerima ilmu, melainkan agen perubahan.
Ada satu dimensi lain yang kerap terlupakan: hubungan kampus dengan dunia luar. Idealisme mahasiswa tidak akan berkembang bila terkungkung dalam ruang akademik yang tertutup. Kampus harus menjadi jembatan antara teori dan praktik, antara wacana dan aksi nyata di masyarakat.
Dengan mendorong kolaborasi lintas sektor—bersama komunitas, dunia industri, hingga gerakan sosial—kampus dapat menghidupkan kembali relevansi ilmu pengetahuan dengan realitas. Pada titik itulah, mahasiswa bisa memahami bahwa idealisme bukan sekadar wacana romantis, melainkan energi yang harus diwujudkan dalam kerja nyata demi masyarakat.







