Oleh: Desi Febriyanti
Wartawan LPM Qalamun
Pagi itu, langit Jakarta menggantung kelabu — seolah ikut menahan tangis yang tak kunjung tumpah.
Di balik deretan gedung pencakar langit yang menjulang gagah, suara rakyat kecil nyaris tak terdengar.
Di sebuah gang sempit, seorang pemuda bernama Raka duduk di depan warung kopi yang sederhana. Di tangannya tergenggam selembar koran lusuh. Pada halaman depan, terpampang foto seorang pejabat tersenyum lebar dalam setelan jas mahal. Judul besar di atasnya menampar pandangan:
“Kasus Korupsi Ditutup, Tidak Cukup Bukti.”
Raka mendecih pelan.
“Tak cukup bukti?” gumamnya getir. “Atau tak cukup uang untuk membeli keadilan?”
Ingatan lamanya kembali. Ayahnya, seorang buruh pelabuhan, pernah dituduh mencuri barang. Tak ada bukti, tapi juga tak ada pembelaan. Tak punya pengacara, tak punya kenalan, dan tentu saja—tak punya uang. Dua tahun ia habiskan di balik jeruji besi.
Sementara di televisi, para tikus berdasi yang mencuri miliaran rupiah masih duduk santai di kursi kekuasaan.
“Indonesia itu demokrasi,” kata guru-guru di sekolah dulu.
“Setiap warga punya hak suara.”
Tapi Raka tak pernah merasa suaranya benar-benar didengar. Ia hanyalah angka di data pemilu—diingat lima tahun sekali, lalu dilupakan lagi.
Dari televisi warung, suara pembawa berita memecah lamunannya.
“Anggota DPR kembali terseret kasus gratifikasi proyek pembangunan. Namun ia membantah semua tuduhan dan menyebutnya fitnah politik.”
Raka terkekeh lirih. “Selalu ada alasan. Selalu ada drama. Tapi tak pernah ada kebenaran.”
Ia meraih buku catatannya yang sudah kumal, menulis beberapa baris dengan tangan gemetar.
Bukan untuk siapa-siapa—mungkin hanya untuk dirinya sendiri.
Indonesia, katanya demokrasi, tapi maknanya telah mati.
Berkali-kali dimonopoli, oleh mereka yang bicara seperti tak punya kepala…
Ia tahu tulisannya tak akan masuk koran, tak akan dibacakan di sidang parlemen.
Namun ia percaya: kata-kata adalah senjata.
Dan ketika rakyat kecil tak punya peluru, mungkin satu-satunya yang tersisa hanyalah kejujuran.
“Kenapa kamu masih menulis?” tanya seorang anak kecil yang duduk di sebelahnya.
Raka menoleh, tersenyum lemah.
“Karena kalau semua orang berhenti bicara,” katanya pelan, “maka kebohongan akan merasa dirinya benar.”
Anak itu mengangguk, meski tak sepenuhnya paham.
Dari kejauhan, suara sirine meraung. Deretan mobil mewah melintas cepat, dikawal polisi yang membuka jalan.
Raka menatap punggung iring-iringan itu, lalu berbisik lirih,
“Lihat, tikus-tikus berdasi lewat lagi.”
Langit yang sedari pagi menahan air mata akhirnya pecah juga.
Hujan turun perlahan, membasahi jalanan, menutupi wajah-wajah letih yang tetap berjuang di negeri bernama demokrasi.







