Oleh: Zulfikar Bustamin
Wartawan LPM Qalamun
Angin dingin bulan Desember menusuk tulang, namun tidak sedingin yang dirasakan Rumi setiap kali matanya tertuju pada jendela dapur. Di balik kaca buram itu, ia tidak melihat pepohonan atau langit kelabu; ia melihat kilasan masa lalu yang selalu membayanginya—seperti kabut yang tak pernah benar-benar sirna.
Kini, di usia dua puluh lima tahun, Rumi bekerja sebagai perancang grafis dengan kehidupan yang tampak rapi dan terkendali. Namun, ada satu sudut dalam dirinya yang tetap kacau, terkunci rapat sejak malam ketika rumah kecil mereka dilalap api. Rumi, yang saat itu baru berumur delapan tahun, berhasil diselamatkan. Tapi kedua orang tuanya tidak. Dan yang paling menyakitkan, Rumi menyalahkan dirinya sendiri.
Ia masih ingat ayahnya berteriak memanggilnya, ibunya mendorongnya keluar, dan dirinya yang kecil tak mampu menarik mereka kembali. Sejak malam itu, trauma menjelma menjadi ketakutan pada api—dan setiap kali mencium bau asap, tubuhnya membeku.
Setiap kali alarm kebakaran di kantor berbunyi, Rumi akan panik, napasnya tersengal, dan ia harus berlari mencari udara bebas. Hidupnya menjadi serangkaian penghindaran.
Suatu sore, neneknya—wanita tua yang lembut dan penuh kebijaksanaan—jatuh sakit. Rumi merawatnya dengan penuh kasih. Suatu malam, di sela-sela suara hujan, Nenek memanggilnya dengan nada lemah.
“Rumi, Nenek ingin sesuatu yang sederhana,” ucapnya pelan. “Ada lilin di laci. Bisakah kamu menyalakannya? Sudah lama Nenek tak melihat cahaya api kecil. Rasanya hangat.”
Dunia Rumi seketika berhenti. Sebatang lilin—permintaan yang begitu sederhana, namun terasa seperti menghadapi monster yang menunggu di balik pintu. Dada Rumi terasa sesak, dan hidungnya seperti mencium asap yang tak ada.
“Nek… bagaimana kalau lampu saja?” tanyanya, suaranya nyaris pecah.
Nenek tersenyum lembut.
“Rumi, trauma itu seperti bayangan. Ia tampak besar saat kita membelakanginya, tapi ketika kita berani menatapnya, kita akan sadar bahwa ia hanyalah sebagian dari diri kita—bukan keseluruhan kita.”
Kata-kata itu menggema lama di dada Rumi. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka laci. Di sana terbaring sebuah lilin putih polos, tanpa aroma. Ia juga mengambil sebungkus korek api.
Rumi duduk di samping Nenek. Jantungnya berdetak tak karuan. Malam kebakaran itu kembali berputar di kepalanya—jeritan, cahaya oranye, dan wajah kedua orang tuanya di antara asap. Air mata menetes di pipinya.
“Aku takut, Nek,” bisiknya parau. “Aku tidak bisa… Aku seharusnya mati bersam—”
:Sstt…” potong Nenek lembut sambil menggenggam tangannya. “Kamu tidak seharusnya mati. Kamu seharusnya hidup. Mereka menyelamatkanmu karena mereka ingin kamu hidup. Apakah kamu pikir mereka ingin kamu membawa rasa bersalah ini selamanya?”
Rumi terisak tanpa suara. Ia membiarkan pelukan Nenek menyalurkan kehangatan yang menenangkan. Lalu, dengan napas berat, ia memandang korek di tangannya.
Ia tahu ini bukan tentang lilin. Ini tentang dirinya—tentang keberanian untuk menghadap bayangan yang selama ini ia hindari.
Dengan sisa keberanian yang ia punya, Rumi menggesekkan batang korek.
Srett.
Api kecil muncul. Ia memejamkan mata, menunggu panik menyerangnya. Namun, yang datang hanya rasa hangat. Ketika ia membuka mata, api itu menari lembut—rapuh, tapi hidup. Rumi menatapnya lama, lalu mendekatkan api itu ke sumbu lilin.
Puf.
Lilin itu menyala. Cahaya keemasan menyebar lembut ke seluruh ruangan. Di mata Rumi, nyala itu bukan ancaman. Ia melihat sesuatu yang lain—kelembutan, cinta, dan kehidupan.
“Mereka mencintaimu, Nak,” kata Nenek lirih, menatap cahaya itu.
Rumi membiarkan air mata mengalir bebas. Untuk pertama kalinya, ia tidak melarikan diri dari api. Ia melihatnya, dan ia melihat cinta di dalamnya. Ia menyadari: api, seperti trauma, hanyalah energi. Ia bisa membakar, tapi juga bisa menerangi.
Rumi menggenggam lilin itu, merasakan hangatnya menjalar di telapak tangan. Ia tidak lagi menyalahkan dirinya atas kehilangan itu. Ia mulai menghormati pengorbanan mereka. Ia mengerti, hidupnya adalah hadiah yang mesti ia terima—lengkap dengan luka dan sembuhnya.
Ketika lilin itu akhirnya padam, Rumi tidak memadamkannya lebih dulu. Ia membiarkan lilin itu meleleh hingga habis, hingga hanya tersisa genangan lilin kering di meja. Ia telah duduk bersama nyala api itu. Ia telah berdamai dengannya.
Keesokan paginya, Rumi menulis daftar hal-hal yang dulu ia hindari. Kali ini, ia berjanji untuk menatapnya satu per satu. Ia mulai dari dapur—menyentuh kompor, menyalakan api kecil, dan tersenyum. Tak ada lagi ketakutan, hanya ketenangan.
Sore harinya, ketika Rumi melihat bayangan dirinya di jendela kantor, ia tidak lagi melihat gadis kecil yang ketakutan. Ia melihat seorang wanita dewasa yang memegang lilin kecil di dalam hatinya—cahaya kecil yang mengingatkannya bahwa cinta selalu lebih kuat daripada kegelapan mana pun.







