Oleh: Widad Miftahul Jannah
Wartawan LPM Qalamun
Dari balik jendela kelas, Nasya menatap ketiga sahabatnya—Kina, Zelin, dan Ayla—yang berjalan sambil tertawa kecil, seolah dunia mereka baik-baik saja. Tak ada tempat untuk dirinya lagi. Padahal dulu, langkah mereka selalu beriringan; pulang sekolah bersama, makan bersama, bahkan berbagi rahasia yang tak pernah keluar dari lingkaran kecil mereka.
Semua berubah hanya karena satu kesalahan kecil. Nasya masih ingat jelas bagaimana bisik-bisik itu bermula, bagaimana tawa yang dulu hangat kini berubah menjadi sindiran yang menusuk. Ia mencoba bertahan, tersenyum, dan menepis perasaannya. Namun setiap hari rasa sepi itu makin menggerogoti dadanya. Hingga akhirnya, ia tak sanggup menahan perih yang menumpuk.
Sepekan kemudian, kabar buruk mengguncang sekolah. Nasya ditemukan sudah tak bernyawa di kamarnya sendiri.
Malam pertama setelah pemakaman Nasya, Kina tidur dengan lampu kamarnya yang remang-remang. Matanya berusaha terpejam, tapi kepalanya penuh suara-suara bisik dari ingatan masa lalu. Tepat ketika ia hendak terlelap, terdengar ketukan pelan di kaca jendela kamarnya. Tok… tok… tok…
Dengan ragu, ia menoleh. Hanya hujan yang menetes, tak ada siapa pun yang ia lihat. Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Namun saat menutup mata kembali, suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat, tepat di telinganya.
“Kina… kenapa kalian tega padaku?”
Jantungnya hampir meloncat keluar. Ia membuka selimut dan menatap lebar-lebar. Di sudut kamar, samar terlihat bayangan seseorang berdiri. Rambutnya basah, wajah pucat, dan mata sendunya menatap lurus padanya. Kina mengenali wajah itu—Nasya.
Dengan napas tercekat, Kina mencoba berteriak, tapi suaranya tak keluar. Sosok itu hanya berdiri, lalu berbisik sekali lagi:
“Bukankah aku sahabatmu?”
Dalam sekejap, bayangan itu menghilang, meninggalkan Kina dengan tubuh gemetar dan keringat dingin.
Beberapa hari kemudian, giliran Zelin yang diganggu. Saat mengerjakan PR di meja belajarnya, lampu kamar tiba-tiba berkelap-kelip. Buku catatannya terbuka sendiri, dan di halaman kosong muncul tulisan samar seakan tergores kuku:
“Aku rindu saat kita tertawa bersama…”
Zelin langsung menjatuhkan pulpen dan menutup buku dengan panik. Sebelum sempat berdiri, ia mendengar suara langkah pelan di belakangnya. Saat menoleh, ia hanya melihat kursi kosong. Namun di cermin meja riasnya, bayangan Nasya berdiri tepat di belakangnya, tersenyum sendu dengan mata basah.
Ayla awalnya menganggap cerita Kina dan Zelin hanyalah halusinasi. Tapi suatu hari, ia pulang lebih sore dari biasanya. Saat melewati lorong sekolah yang sepi, terdengar suara memanggilnya:
“Ayla…”
Suara itu familiar, seperti suara Nasya. Ia mencoba mengabaikannya dan melangkah lebih cepat, namun langkahnya seakan diikuti. Sampai akhirnya di ujung lorong, pintu kelas terbuka sendiri dengan suara berdecit. Di papan tulis, tulisan kapur tergores sendiri:
“Kamu sahabatku, kan?”
Ayla kaku. Lututnya lemas. Baru kali itu ia benar-benar percaya bahwa Nasya tidak tenang.
Karena rasa takut makin menjadi, Zelin diam-diam pergi ke seorang dukun untuk minta roh Nasya diusir. Tapi bukannya hilang, Nasya makin sering muncul. Hampir tiap malam, Zelin bermimpi Nasya duduk di pinggir ranjang, menatap kosong sambil mengulang kalimat yang sama:
“Kenapa kalian tega…?”
Saat Kina dan Ayla tahu Zelin mendatangi dukun, mereka marah.
“Kamu pikir Nasya itu hantu jahat? Dia datang karena kita yang salah!”
Zelin terdiam, menangis ketakutan. Namun dalam hati mereka tahu, Nasya hanya ingin satu hal yang belum pernah ia dapatkan: penyesalan dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Malam itu, ketiga sahabat berdiri di depan makam Nasya. Angin berhembus pelan, lilin kecil yang mereka bawa bergetar, seolah enggan menyala.
Kina berlutut lebih dulu, tangannya gemetar menyentuh batu nisan yang dingin. “Nasya… maafkan aku. Aku yang paling sering menyakitimu, yang ikut-ikutan nyindir. Padahal kamu tidak pantas diperlakukan begitu.”
Zelin menyusul, suaranya serak. “Aku salah… aku bahkan sampai ke dukun, seakan kamu hantu jahat. Padahal kamu sahabatku. Aku takut… tapi aku lebih takut kehilanganmu.”
Ayla yang biasanya paling cuek akhirnya tak kuasa. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. “Kita tetap sahabat selamanya, kan? Tapi aku yang pertama meninggalkanmu. Kalau waktu bisa diputar, aku tak akan biarkan kamu sendirian. Aku menyesal…”
Suasana hening. Hanya suara jangkrik dan desau angin malam. Tiba-tiba, lilin yang hampir padam itu menyala stabil, cahayanya menerangi wajah mereka yang basah karena air mata. Dari balik cahaya redup, samar-samar terlihat bayangan Nasya berdiri di sisi nisan dengan senyum tipis terukir di wajahnya, tanpa kata.
Ketiga sahabat terisak. Mereka tahu Nasya mendengar. Mereka pun mendoakannya, berharap arwahnya benar-benar tenang.
Sejak malam itu, gangguan yang menghantui mereka hilang. Namun satu hal berubah: mereka menjadi lebih hati-hati menjaga perasaan orang lain. Setiap kali hampir tergoda menyindir atau menertawakan seseorang, bayangan wajah Nasya muncul dalam benak mereka, mata sendu yang pernah bertanya, “Aku salah apa?”
Kadang, dalam tidur yang lelap, mereka masih bermimpi. Nasya hadir dengan gaun putih sederhana, rambut terurai, tersenyum tenang. Ia tidak lagi menangis, tidak lagi bertanya. Hanya berdiri dengan senyuman manis, seakan berkata:
“Aku sudah memaafkan kalian.”
Mereka terbangun dengan perasaan lega. Bukan karena semua sudah benar-benar hilang, tapi karena penyesalan yang berubah menjadi doa perlahan-lahan menyembuhkan luka.







