Oleh: Widad Miftahul Jannah
Wartawan LPM Qalamun
Nuansa biru langit bak kanvas,
tumpahan cat biru berpadu putih awan.
Burung-burung terbang riang,
kesana kemari tanpa ragu.
Kelam kembali melahirkan senja,
tak kenal tua, tak kenal waktu.
Siapa yang mengusik selain rapuhnya diri sendiri?
Bahkan rapuh itu tak mampu menimbulkan takut.
Kedamaian menjadi selimut yang nyaman,
seolah hanya keraguan yang tak terlihat mendasarinya.
Malam hadir bagai penyair tanpa kata,
menghamparkan gelap tanpa cela.
Bintang-bintang berserakan, tak ragu untuk bersinar,
mereka tahu, keindahan lahir dari keberanian.
Waktu berbisik pelan,
bukan musuh,
melainkan saksi setiap jiwa yang terus berlabuh.
Di antara gelap dan terang, kita hanyalah bayang,
berjalan di antara harapan dan kenangan yang memudar.
Memaksakan diri untuk tetap berani menghadapi gelap,
demi menemukan keindahan yang selalu diimpikan.
Menerima kerapuhan…
tidaklah buruk, bukan?







