Oleh: Rifky Ramadhan Sabi
Wartawan LPM Qalamun
Langit, seorang mahasiswa agrikultur yang akrab dipanggil Kang Kebun oleh teman-temannya, tak pernah menyangka bahwa kebun kecil miliknya akan mempertemukannya dengan seseorang yang mengubah hari-harinya.
Ia dikenal sebagai pemuda tegas dalam mengambil keputusan, namun tetap sopan terhadap siapa pun. Suatu senja, setelah menyiram kebunnya, Langit bertemu dengan seorang gadis manis yang tampak kebingungan di pinggir jalan setapak.
“Permisi, Kak?” sapa gadis itu dengan suara lembut.
“Iya, ada yang bisa saya bantu?” jawab Langit ramah.
“Kenal Pak Imran? Atau tahu di mana rumah beliau?” tanyanya hati-hati.
Langit sempat tertegun, terpukau oleh wajah manis gadis itu. Setelah beberapa detik, ia menjawab, “Oh, rumah Pak Imran di belakang, yang ada sumur di sampingnya. Kalau boleh tahu, ada perlu apa dengan beliau?”
“Pak Imran itu om saya. Saya mau belajar menanam stroberi. Terima kasih, Kak,” ucapnya sebelum berlalu.
Sejak pertemuan singkat itu, bayangan sang gadis terus menghantui pikiran Langit. Keesokan harinya, ia mencari alasan untuk kembali ke rumah Pak Imran.
Dengan dalih ingin meminta air sumur, Langit pun datang. Saat itu, Pak Imran yang masih belum pulih dari sakit kaki justru meminta bantuannya.
“Kebetulan kamu datang, Langit. Tolong ajari keponakan Om menanam stroberi, ya. Dia baru datang kemarin,” pinta Pak Imran sambil tersenyum.
Kesempatan itu tentu tak ia sia-siakan.
Keesokan harinya, Langit menemui sang gadis di kebun belakang rumah.
“Namamu siapa?” tanya Langit sambil mengulurkan tangan.
“Laut,” jawab gadis itu sambil tersenyum. “Kalau kamu?”
“Langit.”
Laut terkekeh kecil. “Lucu, ya. Aku Laut, kamu Langit. Cocok.”
Sejak hari itu, Langit dan Laut sering bersama. Langit mengajari Laut cara menanam stroberi — mulai dari memilih tanah, memberi pupuk, hingga merawatnya dengan sabar. Hari demi hari mereka lewati dengan canda dan tawa, hingga keakraban tumbuh perlahan tanpa mereka sadari.
“Kapan stroberinya bisa dipanen?” tanya Laut suatu sore.
“Sekitar empat sampai lima minggu lagi,” jawab Langit sambil tersenyum. “Nanti kita panen bareng, ya.”
“Semoga. Pasti seru makan hasil tanaman kita sendiri,” sahut Laut dengan mata berbinar.
Namun, menjelang masa panen, Laut tiba-tiba tak pernah datang lagi. Awalnya Langit mengira gadis itu hanya sibuk, tapi hari berganti minggu — Laut tak juga muncul. Hingga saat panen tiba, Langit menunggu, namun yang ia dapat hanya sepi.
Akhirnya, ia memberanikan diri datang ke rumah Pak Imran.
“Pak, Laut ada di rumah?” tanyanya.
Pak Imran menatapnya lembut. “Walah, Laut sudah kembali ke kota, Nak. Dia cuma mengisi waktu liburnya di sini. Maaf, dia tak sempat berpamitan.”
Langit terdiam. Dadanya terasa sesak, seolah angin senja berhenti berhembus. Ia kembali ke kebun, memanen stroberi seorang diri. Di antara rimbun daun dan aroma tanah basah, ia duduk termenung sambil mencicipi satu buah stroberi.
“Rasanya manis,” gumamnya pelan. “Andai saja kamu masih di sini, Laut… kita bisa menikmatinya bersama.”
Sejak saat itu, kebun stroberi milik Langit menjadi saksi bisu tentang pertemuan yang singkat tapi berarti. Ia belajar bahwa manisnya pertemuan tak selalu sejalan dengan panjangnya kebersamaan —
karena kadang, seperti Langit dan Laut, ada kisah yang diciptakan hanya untuk saling menyapa, lalu menghilang bersama waktu.







