Oleh: Zainal Takdir Basir
Wartawan LPM Qalamun
Konon, di sebuah hutan yang rimbun dan menenangkan, hiduplah seekor lipan yang sangat istimewa. Ia memiliki seratus kaki yang bisa bergerak seirama, menciptakan tarian yang begitu indah hingga membuat seluruh penghuni hutan terpukau setiap kali ia menari. Burung-burung berhenti berkicau, kelinci duduk terpana dengan mata berbinar, bahkan angin pun terasa ikut berputar mengikuti irama langkah sang lipan.
Setiap gerakannya seperti melodi yang dimainkan oleh alam. Semua makhluk merasa bahagia menontonnya.
Semua—kecuali satu.
Seekor kura-kura darat yang pemalas dan pendengki hanya memandangi dari kejauhan dengan wajah masam. Di dadanya tumbuh rasa iri yang pekat.
“Mengapa semua memuji lipan? Tidak adakah yang memperhatikan aku?”
gumamnya pelan, menatap cangkangnya sendiri yang berat dan kaku.
Ia tahu dirinya tak bisa menari, apalagi menggerakkan tubuh dengan lincah. Namun, iri sering kali melahirkan akal busuk. Maka kura-kura pun merancang sebuah tipu daya.
Malam itu, di bawah cahaya bulan, ia menulis sebuah surat dengan tinta hitam di atas daun kering:
“Wahai lipan yang tiada tara,
Aku adalah pengagum tarianmu yang indah. Namun aku selalu penasaran, bagaimana engkau bisa menari begitu memukau?
Apakah engkau mengangkat kaki kiri nomor 26 terlebih dahulu, lalu kaki kanan nomor 37?
Ataukah engkau memulai dengan kaki kanan nomor 15, lalu kaki kiri nomor 42?
Aku menanti jawabanmu dengan penuh harap.
Dengan hormat,
Kura-kura.”
Surat itu penuh pujian, tapi sesungguhnya mengandung jebakan halus.
Keesokan paginya, lipan menerima surat itu. Ia tersenyum kecil, merasa tersanjung. Tapi ketika membaca pertanyaan-pertanyaan itu, dahinya berkerut.
“Kaki mana yang kuangkat lebih dulu? Apakah kanan? Apakah kiri?
Bagaimana mungkin aku tidak tahu?” pikirnya bingung.
Sejak hari itu, lipan mulai memikirkan setiap langkahnya. Ia mencoba mengingat urutan kakinya satu per satu, tapi semakin ia berpikir, semakin kacau gerakannya. Ketika ia menari lagi di depan para penghuni hutan, kakinya justru saling bertabrakan. Tidak ada lagi tarian indah yang memukau.
Yang tersisa hanyalah kebingungan dan kecewa.
Lipan tersandung oleh pikirannya sendiri.
Sejak hari itu, ia tak pernah menari lagi. Hutan menjadi sepi, tanpa denting langkah yang dulu membuat semua hati riang.
Dan kura-kura pun tersenyum puas — meski dalam hatinya terasa hampa. Ia hanya berhasil menghancurkan keindahan, tanpa pernah bisa menciptakan apa-apa.
“Kadang, keindahan lahir dari spontanitas — dari hati yang bebas tanpa terlalu banyak perhitungan. Bila imajinasi dikekang oleh analisis yang berlebihan, maka keajaiban bisa sirna.”







